Doa Anak Batak

August 21st, 2008 by ckaldera

Doa

artinya :

O Tuhan, Berikanlah Bapak (ayah) ku menang togel sekali-kali…
Kasihanilah (sayangilah) ibuku, biar orang lain (secara) baik2 membayar utangnya, agar kami punya uang untuk beli daging. Biar jangan dipotong si Bleki (anjing ini) seperti ibunya bulan kemarin…
[kira-kira seperti itu artinya]
……………………………………….

Ketika Angin, Daun, dan Pohon bercerita

July 21st, 2008 by ckaldera

18tree600_2

Pohon

Alasan
mengapa orang-orang memanggilku “Pohon” karena aku sangat baik dalam
menggambar pohon. Setelah itu, aku selalu menggunakan gambar pohon pada
sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak 5 orang wanita ketika aku masih di SMA.

Ada satu wanita yang aku sangat aku cintai, tapi aku tidak punya
keberanian untuk mengatakannya. Dia tidak memiliki wajah yang cantik,
tubuh yang sexy, dan sebagainya. Dia sangat peduli dengan orang lain dan religius. Tapi dia hanya wanita biasa saja.

Aku menyukainya, sangat menyukainya, menyukai gayanya yang innocent dan apa adanya, kemandiriannya, aku menyukai kepandaiannya dan kekuatannya.

Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang
sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku juga takut, jika kami
bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau
gosip-gosip yang ada akan menyakitinya. Aku merasa dia adalah
“sahabatku” dan aku akan memilikinya tiada batasnya dan aku tidak harus
memberikan semuanya hanya untuk dia.

Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai
pergumulan selama 3 tahun ini. Dia tau aku mengejar gadis-gadis lain,
dan aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun.

Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan terlihat olehnya. Dia
hanya tersenyum dengan berwajah merah dan berkata “lanjutkan saja…” dan
setelah itu pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak, dan
merah…

Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis, but
aku tertawa dengannya seharian. Ketika semuanya telah pulang, dia
sendirian di kelas untuk menangis. Dia tidak tahu bahwa aku kembali
dari latihan sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku
melihatnya menangis selama sejaman.

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. Pernah sekali mereka berdua
perang dingin, aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin.
Tapi aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya
penuh dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya
dan pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan
bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu
bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit
hatiku sama buruknya dengan dia, aku juga sedih.

Ketika aku putus dengan pacarku yang ke-5, aku mengajaknya pergi.
Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang
ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa
dia juga ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Aku cerita padanya
tentang putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang
memulai suatu hubungan dengan seseorang. Aku tahu pria itu. Dia sering
mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik.

Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakitnya hatiaku, tapi hanya bisa
tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah,
sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada
batu yang sangat berat di dadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin
berteriak namun tidak bisa.

Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya.

Ketika upacara kelulusan, aku membaca SMS di handphone-ku. SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis.

SMS itu berbunyi, “Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?“

Daun_jambu

DAUN

Selama SMA, aku suka mengoleksi daun-daun, kenapa? Karena aku merasa
bahwa daun membutuhkan banyak kekuatan untuk meninggalkan pohon yang
selama ini ditinggali.

Selama 3 thn di SMA, aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai
pacar tapi “Sahabat”. Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang
pertama kalinya, aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku
pelajari sebelumnya, CEMBURU. Perasaan di hati ini tidak bisa
digambarkan dengan menggunakan Lemon. Hal itu seperti 100 butir lemon
busuk. Mereka hanya bersama selama 2 bulan. Ketika mereka putus, aku
menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Tapi sebulan
kemudian dia bersama seorang gadis lagi.

Aku menyukainya dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku, but
mengapa dia tidak mau mengatakannya? Sejak dia mencintaiku, mengapa dia
tidak yang memulainya dulu untuk melangkah? Ketika dia punya pacar baru
lagi, hatiku selalu sakit. Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sakit.

Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah
tangan, tapi mengapa dia memperlakukanku dengan sangat baik di luar
perlakuannya hanya untuk seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, aku tahu kesukaannya,
kebiasaannya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui.
Kau tidak mengharapkan aku sebagai seorang wanita untuk mengatakannya
bukan?

Di luar itu, aku mau tetap di sampingnya, memberinya perhatian,
menemaninya, dan mencintainya. Berharap, bahwa suatu hari, dia akan
datang dan mencintaiku. Hal itu seperti menunggu telponenya setiap
malam, mengharapkannya untuk mengirimku SMS. Aku tau sesibuk apa pun
dia, dia pasti meluangkan waktunya untukku. Karena itu, aku
menunggunya. 3 tahun cukup berat untuk kulalui dan aku mau menyerah.
Kadang aku berpikir untuk tatap menunggu. Luka dan sakit hati, dan
dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini.

Ketika diakhir tahun ke-3, seorang pria mengejarku, dia adalah adik
kelasku, setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Dari penolakan yang
telah dia tunjukkan, aku merasa bahwa aku ingin memberikan dia ruang
kecil di hatiku.

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk
terbang dari pohon. Akhirnya, aku sadar bahwa aku tidak ingin
memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku.

Aku tau Angin ini akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ke
tempat yang lebih baik. Akhirnya aku meninggalkan Pohon. Tapi Pohon
hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal, aku sangat sedih
memandangnya tersenyum ke arahku.

“Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk tinggal?”

Aneangin

ANGIN

Karena aku menyukai seorang gadis bernama Daun, karena dia sangat bergantung pada Pohon, jadi aku harus menjadi Angin yang kuat.

Angin akan meniup Daun terbang jauh. Ketika aku pertama kalinya,
ketika 1 bulan setelah aku pindah sekolah. Aku melihat seorang
memperhatikan kami bermain sepakbola. Ketika itu, dia selalu duduk di
sana sendirian atau dengan teman-temannya memerhatikan Pohon. Ketika
Pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika
Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya
menjadi kebiasaanku, seperti daun yang suka melihat Pohon. Satu hari,
dia tidak tampak, aku merasakan kehilangan.

Seniorku juga tidak ada saat itu, Aku pergi ke kelas mereka, melihat
seniorku sedang memperhatikan daun. Air mata mengalir di mata daun
ketika Pohon pergi, besoknya, aku melihat Daun di tempatnya yang biasa,
memperhatikan Pohon. Aku melangkah dan tersenyum padanya. Menulis
catatan dan memberikan kepadanya. Dia sangat kaget.

Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima catatanku. Besoknya,
dia datang, menghampiriku dan memberiku catatan. “Hati Daun sangat kuat
dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau
meninggalkan Pohon.” Aku melihat ke arahnya dengan kata-kata tersebut
dan pelan dia mulai berkata padaku dan menerima kehadiranku dan
teleponku.

Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha
agar suatu hari dia menyukaiku. Selama 4 bulan, aku telah mengucapkan
kata Cinta tidak kurang dari 20 kali kepadanya. Setiap kali dia
mengalihkan pembicaraan… tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk
memiliki dia dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku.

Aku bertanya, “apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?” Dia berkata, “aku menengadahkan kepalaku”.

“Ah?” Aku tidak percaya apa yang aku dengar.

“Aku menengadahkan kepalaku” dia berteriak.

Aku meletakkan telepon, berpakaian dan naik taxi ke tempat dia, dan dia membuka pintu, aku memeluknya kuat-kuat.

“Daun terbang karena tiupan Angin atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal”.

July 4th, 2008 by ckaldera

Lovejourney

AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


=========================================

SAJAK-SAJAK KECIL TENTANG CINTA

/1/
mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
/2/
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
/3/
mencintai-Mu
harus menjelma aku


( Sapardi Djoko Damono)

============================

regards,

-tryingtochangethosequestionmark-

 

Kung Fu Panda : Impian Memang Untuk Dikejar

June 30th, 2008 by ckaldera

Kungfupandamovie1515


"Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present."

(Master Ooguay)

Sinopsis

Po (Jack Black) adalah Panda  penjual mie yang selalu bermimpi menjadi jago kung fu. Sayang ia takut mewujudkan mimpinya karena tak mau mengecewakan ayahnya. Sang ayah sangat berharap Po mewarisi usaha mie keluarga. Bermimpi hal yang sama setiap hari, keinginan Po untuk jadi jago kung fu tak terbendung ketika sebuah perguruan kung fu ternama mencari pendekar naga. Ia pun pergi ke tempat audisi, hingga sebuah kebetulan membawanya menjadi murid perguruan tersebut dan dianggap sebagai si pendekar naga.

Kenapa harus nonton film ini ?

Setelah tertawa lebar-lebar dan sepenuh hati, ternyata badan terasa segar, seperti ada aliran hangat di sekujur badan. Konon, tertawa selama 5 sampai 10 menit dapat merangsang kelenjar endorfin (penghilang rasa sakit dalam tubuh). Endorfin, serotonin dan melatonin dapat menimbulkan perasaan senang dan tenang. Di negara maju, katanya, ada semacam klinik tertawa untuk orang-orang yang mempunyai tendensi depresi dan stress.Pada hakekatnya, merengut memang lebih mudah ketimbang tertawa. Menurut The Power of Laugh, tertawa memerlukan kerja 8 syaraf sedangkan merengut hanya 3 syaraf (!). Tentu saja membuat orang tertawa pastilah lebih susah ketimbang membuat orang merengut. Saya cukup bilang ‘gila lu’ untuk membuat orang merengut atau bahkan marah dan melempar asbak.

Film ini dijamin dengan sukses akan membuat Anda tertawa terbahak-bahak,lihatlah adegan di awal film ketika si Po bangun tidur dan tidak bisa menegakkan badannya karena terlalu berat!

Atau adegan di akhir film,ketika samar-samar Si Po muncul dari balik debu bekas pertarungannya dengan Tai Lung (Ian McShane), Anda pasti mengira dia memakai jubah dan topi lebar khas pendekar kungfu jagoan,tapi ternyata….

Kata-Kata Mutiaranya itu loh …

"There is no charge for awesomeness - or attractiveness." (Po)

"Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present." (Master Ooguay)

"One often meets his destiny on the road he takes to avoid it. " (Master Ooguay)

"There are no accidents." (Master Ooguay)

Atau dialog-dialog cerdasnya …

———————————————————————————————————————-

Tigress : " It is said that the Dragon Warrior can go for months without eating, surviving on the dew of a single gingko leaf and the energy of the universe."

Po : " Then I guess my body doesn’t know I’m the Dragon Warrior yet. It’s gonna take a lot more than dew, and, uh, universe juice."

———————————————————————————————————————-

Shifu (Dustin offman) : " That flabby Panda is not a warrior."
HOogway (Randall Duk Kim) : " You just need to believe."

———————————————————————————————————————-

Tai Lung: " You… you’re just a big… fat… panda! "
Po:" I’m not a big fat panda. I’m *the* big fat panda "

———————————————————————————————————————-

(Ketika Si Po sedang jatuh terpelanting menuruni anak tangga ):
Tigress (Angelina Jolie) : " If he’s smart, he won’t come back up those stairs."
Monkey (Jackie Chan) : " Yet he will, anyway."
Viper (Lucy Liu) : " He’ll never stop trying, will he? "
Mantis (Seth Rogen) : " He’ll never stop bouncing, I can tell you that."

———————————————————————————————————————-

Hikmahnya ?

Seringkali dalam mengejar impian kita mengalami banyak cemoohan dan rintangan,tapi seperti lirik lagunya Whitney Houston dan Mariah Carey :

" It can be miracle when You believe… "

Buat aku sih itu artinya terus usaha… and terus usaha…..
*(Tapi ngomong emang gampang sih he..he..he..)

regards,
-Po-

Life is Never Easy, Even When You’re Doing Well….

May 26th, 2008 by ckaldera

Judul di atas terinspirasi oleh mesej seorang teman pada saat kita secara tak sengaja ngebahas masalah kenaikan harga BBM di Indonesia.


Tapi, kata-kata diatas diambil sama persis dari sini. Postingan dari Mr. Trump (yang kaya raya itu) tahun 2005. Cerita singkatnya kira-kira begini : Mr. Trump kecewa dengan para wartawan. Berbagai macam wartawan yang menulis berita yang tidak benar.


Suatu hari salah satu koran terbesar di Amerika ‘New York Times’ menerbitkan tulisan seorang wartawan berita yang tidak benar di edisi senin pagi surat kabarnya. Aniway, begitu harian tersebut beredar di pasaran, telpon pengacara Mr.Trump pun berdering untuk dimintai apakah ada sanggahan pada saat itu juga. Mereka tidak mennggu sampai besok harinya karena bisa jadi besok paginya jangan-jangan tuntutan sudah masuk ke kantor polisi. Singkat kata, Mr. Trump menghujat wartawan-wartawan yang berperilaku seperti itu.


‘Life in Never Easy, Even When You’re Doing Well’


———————————————————


Minyak_tanah2r

Ini cerita aseli Indonesia, pemandangan foto di atas percaya atau ngga. Gw temui setiap hari selasa - jumat ketika perjalanan menuju ke kantor gw di bilangan depok. Why? ya…karena disitu ada sebuah pangkalan minyak, dan pangkalan itu akan nerima jatah pengiriman hari itu. Sekitar sebulan-dua bulan yang lalu minyak tanah menghilang dari Depok. Mau tak mau, program konversi energi ke LPG itu terkena juga ke Depok. Pembagian kompor pun dilakukan, gw ga mau ngebahas urusan apakah merata atau tidak.



Yang jelas, pagi itu. Persis di depan antrian, entah knapa gw sengaja mampir ke warung tukan nasi uduk seberang jalan pangkalan minyak tanah itu. Tebaklah siapa yang banyak nunggu disitu? Well… tentu saja ibu-ibu yang sedang bergosip-ria.


ibu x (berkuncirkudahitammanis) : ‘Sekarang hidup susah, mo masak aja ga bisa. Minyak tanah gak ada, harga2 naek..’


ibu y (bajuijokipaskipas) : ‘Iyah, dulu belanja ke pasar saya bawa 10rb dah bisa masak, sekarang mah boro-boro dapet lauk enak, palingan belanja telor’


ibu x (mulaiseriusmenatapkeibuy) : ‘Wah, bener bu! kemaren saya beli cabe aja dah naek, padahal apa hubungannya harga cabe sama minyak tanah?’


ibu y (tetepkipaskipascuek) : ‘Udahlah Bu, susah juga hidup klo dipikirin’


Gw (makanudukcelingakcelingukcaricemilanfavorit) : ‘Bu, kerupuknya mana???’


Ibu tukang uduk : ‘Wah, udah 2 hari ini ga dapet kiriman mas! liat aja tuh…3 kaleng aja kosong semua. 3 pabrik krupuk tutup gara-gara ga ada minyak tanah!, terigunya juga naek katanya’


Gw (sembaripasrah…cuma bisa mikir, buset! 3 pabrik krupuk tutup? berapa karyawan tuh? berapa orang ga makan, ga punya kerjaan yaa?)


untuk orang-orang pekapuran dan pabrik krupuk :


‘Life is never that easy, even when you’re doing well’


———————————————————-


 

…………………..

May 4th, 2008 by ckaldera

our deepest fear is not that we are inadequate
our deepest fear is that we are powerful beyond measure
we ask ourselves, "who am I to be brilliant, gorgeous, talented, and fabulous?"

actually, who are you NOT to be?

we were born to make manifest the glory of God that is within us
and as we let our own light shine…
we unconsciously give other people the permission to do the same…

-"Akeelah and the Bee", originally quoted from Marriane Williamson’s book-

Bau

April 17th, 2008 by ckaldera

Berita itu menyulut perlahan-lahan bagaikan petasan yang disundut, dan
meledak tepat di telingaku ketika Sari, gadis manis di rumah sebelah,
membisikkannya setelah menghabiskan sekian menit untuk berpikir.


"Ken yang pertama kali mencium." Wajah Sari memucat ketika dia
kupaksa bercerita. Alisnya terangkat, mengingat-ingat.

Ada rasa segan dalam suaranya. "Pada
awalnya kupikir Ken mengada-ada. Semua orang tahu, Ken termasuk teman dekat Riko.
Mungkin dia masih belum bisa melupakan persahabatan mereka. Tetapi ketika
akhirnya aku sendiri mengalami…."


Tubuhku meremang, walau sekuat tenaga kucoba untuk tidak mempercayai hal-hal di
luar rasio seperti itu.


Tanah kubur Riko memang masih basah. Kepergiannya belum lagi genap empat puluh
hari. Dan airmata keluarga kami masih belum kering. Tetapi berita itu sudah
terlanjur menyebar. Penghuni kompleks bagaikan berlomba membisikiku. Bukah
hanya Sari dan Ken, pacarnya, tetapi juga Bu Romlah yang punya warung nasi di
ujung jalan, Hadi yang anaknya Pak Lurah, bahkan sampai pemuda-pemuda
pengangguran yang sering nongkrong di gardu ronda, yang tadinya tidak pernah
berhubungan langsung dengan Riko!


Semua membisikkan hal yang sama. Bahwa beberapa hari setelah Riko pergi,
menyebar bau sengit di jalan layang dekat kompleks yang baru diresmikan
setengah tahun lalu, tempat di mana Riko diketemukan tewas seketika karena
kecelakaan.
Sungguh, hal ini merupakan pukulan berat bagi kami sekeluarga. Ibu sampai tidak
berani melewati jalan layang itu jika tidak penting benar. Ayah sering termenung
di depan rumah. Deki dan Bram lebih memilih naik bis kota ke mana-mana dengan alasan tidak ingin
lewat tempat tersebut. Mendadak kami semua menjadi pengecut! Kadang-kadang aku
berpikir, apakah benar Riko mengeluarkan bau sengit di ujung jalan itu? Apakah
harus semua manusia yang mati basah menjadi arwah penasaran? Bukankah suatu
kematian yang tidak disengaja tetap merupakan garis hidup manusia?


"Kalau ingin membuktikan, pergilah ke tempat itu, Riz. Dua hari lagi tepat
malam Jumat Kliwon, seperti yang mereka katakan, malam di mana bau semakin
menusuk," Ray menghentikan lamunanku.


Perlahan, kutatap matanya. Dia memandangku lekat. Sejak Riko pergi, hanya Ray
satu-satunya yang kupercaya. Dia sahabat Riko dalam segala suasana. Anehnya, di
saat Riko masih ada dahulu kami justru tidak terlalu akrab.


Melihat aku tetap diam, Ray menyentuh lenganku halus. "Aku berjanji akan
menemanimu, Riz, jangan takut," hiburnya lembut.


Detik itu juga tangisku memecah. Aku tidak kuat mendengar berita itu kian
menyebar dari mulut ke mulut. Di depanku Ray membisu dengan mata merah. Dia
tidak berusaha untuk menenangkanku, atau merengkuhku, tetapi genggamannya pada
tanganku semakin kuat. Aku tahu, itu lebih dari sekedar apa yang ingin dia
ucapkan.


"Aku sakit hati," bisikku terputus. "Riko saudaraku yang
terdekat. Aku lahir beberapa menit setelah dia. Perasaan kami sama, Ray! Dan,
sekarang? Kalau Riko jadi hantu… aku ini apa?!"


"Riko sudah pergi, Rizki," Ray menepuk-nepuk punggung tanganku,
"tapi kamu masih ada. Disanabedanya. Yang tinggal sekarang adalah perasaanmu. Maka mulailah berpikir dengan
logika. Bagaimanapun juga, asal bau itu harus diselidiki."


Tekad Ray membangkitkan semangatku. Dua hari lagi malam Jumat Kliwon. Hanya
ibu, orang rumah yang kuberi tahu rencana ini. Nyatanya, tanggapan ibu sungguh
di luar dugaan! Ibu memelukku erat, terisak-isak seraya membisikkan sesuatu
yang membuat jantungku berdetak lebih kencang.


"Tetapi untuk apa semua itu, Bu?" Kulepas pelukan ibu pelan-pelan,
memandang wajah tuanya, mencari jawaban. Aku tidak mengerti. Mengapa hanya
karena mendengar celoteh para ibu di perkumpulan arisan kompleks, ibu jadi
terpengaruh untuk membuat sesajen atau membeli bunga aneka warna untuk
diletakkan di tempat Riko tabrakan?"


"Tolonglah ibu, Riz," Ibu menyusut matanya dengan jari-jari gemetar.
"Mereka mengatakan Ibu kurang doa-doa." "Kita beragama,
Bu."


"Kalau kita tidak membuat sesajen ini, mereka akan menjauhi kita,
mengucilkan kita. Mereka meminta Ibu, agar Riko tenang, agar mereka
tenang."


Aku tertunduk. Permintaan Ibu sungguh berat untuk dilukiskan. Kulihat mata Ibu
menatap penuh pengharapan.


"Ibu percaya, kalau Riko yang jadi hantu?" Aku tak kuasa menahan
tangis. "Riko anak Ibu yang terbaik, Bu. Dia dipanggil lebih cepat dari
kita semua, karena Tuhan sayang padanya. Ibu yakin kalau bau itu, adalah…
dari anak Ibu?"


Sampai di sini napasku terasa sesak. Ibu memagutku kuat-kuat dengan tubuh
menggigil. Sesaat kami tidak tahu harus mengatakan apa.


"Nak," Ibu menatapku dengan wajah pasrah. "Maafkan Ibu. Ibu
tidak yakin, juga tidak percaya seperti sangkamu. Tetapi kadangkala di dunia
ada sesuatu yang tidak kita yakini tetapi ternyata harus kita percaya, bahwa
itu ada. Kau mengerti maksud Ibu?"


Aku terdiam. Dan malam ini, ketika Ray datang menjemput, kuterima tas plastik yang
ibu sodorkan berisi tujuh kembang serta sejumlah dupa yang nantinya harus
dibakar. Selain itu, Ibu membekaliku dengan doa-doa yang harus kubaca seraya
membakar dupa. Entah dari mana datangnya doa-doa semacam itu, aku tidak tahu.
Yang jelas, secarik kertas berisi mantra itu kini berada bersama-sama peralatan
lainnya dalam tas plastik yang kubawa.


Ray tersenyum ke arahku sesaat setelah pamit kepada Ibu yang mengantar sampai
depan pintu. Tetapi senyumnya seketika hilang.


"Wajahmu pucat sekali, Rizki," katanya hati-hati. Digenggamnya
tanganku seolah menyalurkan kekuatan. Aku hanya menggumam pelan setelah melihat
ke arah tangan kiriku. Ray ikut-ikutan memandang ke sana dan segera menemukan apa yang menjadi
beban pikiranku.


"Aku tidak tahu harus menyarankan apa. Aku sendiri juga masih belum
percaya," bisiknya lirih.

Kami tiba di ujung jalan pukul dua belas kurang seperempat, tengah malam.
Angin malam menyelusup dingin dari sela-sela jaket yang kurapatkan. Hanya satu
dua mobol yang lewat di sana.

 

Ray mengeluarkan senter dan menyorot kesana
kemari. Lampu neon di jalan sedikit membantu penghlihatan. Kami memutuskan
untuk tegak berdiri bersandarkan dinding beton jalan layang sambil menunggu
tepat tengah malam. Sementara itu, kelap-kelip lampu dari bawah, dari arah
kompleks dan gedung lain menambah semarak. Kuning, hijau, merah, saling
berpadu. Beginilah kehidupan di kota
besar. Pada saat segala kegiatan terhenti, suasananya tak pernah tidur.

 


Ray mengangkat tangannya, menunjuk sesuatu. Sebuah daerah gelap di seberang
lapangan bola, nyaris terlepas dari pandangan kami. Sungguh beda dengan daerah
sekitarnya yang didominasi gerak lampu aneka warna.


"Perkampungan kumuh," kata Ray lambat. "Konon pembuatan jalan
ini terjadi di daerah mereka, sehingga mereka pindah kesana
Mataku menyipit. Rumah tanpa lampu, entah dari tikar atau kertas koran, dari
kejauhan tampak bergerak-gerak.
"Mereka digusur?"
"Kurasa tidak, Riz. Biasanya mereka mendapat ganti rugi. Entah kenapa,
kehidupan mereka tetap begitu saja. Mereka yang tidak mau berusaha atau
bagaimana, aku tidak tahu." Mendadak Ray tertawa lirih. Aku melihatnya
heran. Bagaimana dia bisa tertawa setelah menerangkan sesuatu yang kontradiktif
dengan kehidupan kami, yang membuat batinku tersentuh?


"Mungkin, salah seorang dari mereka ada yang bunuh diri di tempat ini.
Siapa tahu tempat ini dulu merupakan tempat dia kencan dengan ceweknya yang
sudah lama meninggal…."
"Ray!"


Tawanya terhenti. Ray menatapku dengan mulut terkatup. Kami sama-sama
disentakkan pada tujuan semula, sama-sama mengangkat lengan kanan melihat jam.
Masih kurang lima menit lagi mencapai tengah malam. Angin malam berhembus kian menusuk.
Kutinggikan kerah jaket, dan sat bersamaan ada yang berdesir di tengkukku.
Kutahan napas sejenak. Apakah kini aku telah menjadi seorang pengecut, sehingga
bulu kudukku terasa berdiri? Atau, ada sesuatu di sekitar kami? Kutajamkan
penciuman. Mereka mengatakan, bau itu sangat sengit. Mirip dengan bau mayat
yang diberi formalin. Cuping hidungku bergerak, mengendus-endus. Aku belum mencium
apa-apa!


Pukul dua belas tepat. Kami masih tegak bersandarkan dinding beton jalan. Ray
menyentuhku. "Titipan Ibumu, Riz, bagaimana?"


Tanganku bergerak kaku mengeluarkan barang-barang itu dari dalam tas plastik.
Kembang tujuh warna, air bersih, tiga batang dupa, sekotak korek api dan….
"Rizki!" Ray tidak mampu menahan keterkejutannya ketika melihat
tubuhku berputar cepat membuang semua yang berada dalam tanganku, ke bawah.
Kembang-kembang itu melayang-layang diterbangkan angin, dan dupa itu sudah dari
tadi meluncur ke bawah. Kutatap semuanya dengan pandangan jauh. Angin malam
kini mendesau berirama di telingaku. Sesaat, kami saling berpandangan. Waktu
masih berjalan dan malam semakin sunyi.


"Ray, Riko sudah tenang di sisi-Nya. Dia tidak ada di sini, dia tidak ada
di mana-mana. Mereka semua bohong! Pengecut! Penakut!"


Tanpa bicara Ray mengulurkan lengannya, menarik bahuku. Kami melangkah bersama,
meninggalkan jalan layng yang panjang dengan puluhan neon di belakang.

***

Ray menghampiriku di kantin dengan wajah berseri. Kupikir ada sesuatu yang
hendak dia katakan. Gerak tanganku mengaduk-aduk segelas es alpokat di depan
seketika terhenti mendengar berita yang dia bawa.


"Mereka tidak pernah memberitahu, pukul berapa saja bau itu tercium,
apakah saat itu kaca mobil mereka terbuka, atau berapa kali dalam seminggu bau
itu tercium. Tetapi yang paling utama, Rizki, mereka adalah orang-orang yang
tak pernah tahu membedakan bau mayat dan bau dari pabrik tapioka yang
kegiatannya baru berhenti pukul sepuluh malam."


Aku ternganga. Pabrik tapioka? Itukah kuncinya? Pabrik itu hanya beberapa
kilometer dari jalan layang, tetapi jauh di seberang komplek kami. Dan malam
itu, kami berdiri membelakanginya. Tentu saja bau itu tidak tercium. Bukankah
menurut informasi yang diterima Ray, kegiatan pabrik hanya berlangsung hingga
pukul sepuluh malam?


Keningku mengerut. Ray segera mengambil tanganku.
"Masih banyak hal yang perlu kita pikirkan, Rizki. Bukan hanya
cerita-cerita penuh bumbu penyedap sejenis itu."


Aku termangu sejenak, lantas tertunduk tanpa berkata apa-apa. Dadaku sesak.

Ada suatu yang ingin
kuceritakan padanya, yang tidak bisa lagi kutahan ketika Ray mendesak.


Cerita tentang Riko tidak pernah berhenti. Cerita itu kini semakin berkembang,
justru setelah kepergian kami ke ujung jalan beberapa malam yang lalu. Kini,
mereka malah berusaha meyakinkan, ada yang melihat Riko berdiri, bersandar di
dinding beton jalan, berdua dengan seorang gadis dengan kaki tak menapak di
tanah!


Ray menatapku kuyu. Kami sama-sama tahu siapa yang dibicarakan orang-orang itu.
Tetapi cerita telah terlanjur tersebar!


"Kasihan Ayah, Ibu, dan adik-adik," desisku pelan. Di hadapanku, Ray
masih mematung. Akhirnya napasnya kudengar mengempas keras. Direnggutnya
tanganku tiba-tiba.


"Aku sedih, Rizki," matanya memerah. "Aku tidak mengerti,
mengapa ini harus terjadi pada keluarga kalian?"


Sungguh, aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Bagaimana kami harus bicara
mengenai hal yang sebenarnya? Bagaimana kami harus menjelaskan asal bau itu,
siapa yang berdiri di ujung jalan tepat tengah malam ketika kami berada di sana? Ataukah, manusia
sekarang telah terlampau tipis keimanannya?

 

Bu Atun dan Anaknya…..

April 4th, 2008 by ckaldera

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
p
{mso-margin-top-alt:auto;
margin-right:0in;
mso-margin-bottom-alt:auto;
margin-left:0in;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>



Saat
itu aku sedang duduk di sebuah depot pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut.
Terminal Baranangsiang-Bogor ini memang selalu sibuk tanpa henti melayani
penumpang komuter Jakarta-Bogor. Tak ada kata berhenti di nadi kenek-kenek
untuk selalu berteriak mecari penumpang.
Sambil menunggu pesananku
datang, aku mengedarkan pandangan melihat sekeliling depot ini. Tatapanku
terhenti pada seorang ibu yang menangis tanpa suara sambil membalas sms yang
baru saja diterimanya. Tanpa ragu kudatangi ibu itu.


"Permisi, bu" Ibu itu menengadahkan
kepalanya melihatku. "Boleh saya menemani Ibu disini?" tawarku sambil
tersenyum. Ibu itu mengangguk pelan, tetap saja menangis.


" Maaf Bu, kalau Ibu tidak keberatan, Ibu
knapa sedih?" aku mengelus punggung telapak tangan ibu itu. Sungguh sebuah
pemandangan yang jarang terlihat seorang ibu menangis tersedu-sedu di pinggir
jalan seperti itu. Tidak jauh dari terminal lagi.


Ibu itu tetap diam. Pesananku datang, Bu joyo
pemilik depot setengah berteriak memanggilku meletakkan semangkuk soto di
tempat yang kupilih.. " Ibu sudah makan? ". Gelengan kepalanya yang
lemah cukup untuk mengetuk hatiku menawarinya makan di depot. Kupesankan soto
semangkuk lagi untuknya.


" Saya ini…" ucapnya tiba-tiba. Kuletakkan
sendokku dan kusingkirkan makananku dari hadapanku. Lalu cerita mengalir begitu
saja dari bibirnya.


"Saya hanya seorang pembantu rumah tangga
harian.
Asal saya Ponorogo. Disini saya ngekos. Gaji saya kecil,
Dik. Wong saya ini cuma tukang cuci dan setrika baju saja. Tapi anak saya
nuakalnyaaaa…. ndak ketulungan, Dik. Saya baru saja disms Paklik saya,
katanya Yanto ditangkep polisi.
Baru mencuri tv tetangga, dia jual,
terus dibelikan minuman keras.


"Saya bingung, Dik. Dapat dari mana saya uang
segitu besar untuk nebus Yanto? Wong gaji saya sebulan cuma cukup untuk bayar
SPP-nya Yanto dan makan kami selama sebulan. Paklik manggil saya pulang Dik,
katanya Yanto mau disidang. Saya ndak mau Yanto dipenjara, Dik…." cerita
berhenti sebentar. Ibu itu menyeka peluh di mukanya


."Saya harus pulang dan nebus Yanto, Dik. Tapi
saya ndak ada duit"  tangisnya makin menjadi.


Selera makanku hilang seketika. "Ibu masih mau
bekerja jadi pembantu?"


"Mau sekali, Dik. Wong saya bisanya ya cuma
itu…."


Aku lalu menawarinya bekerja di rumahku. Ibu itu,
yang belakangan kuketahui namanya Atun, senang bukan kepalang dan berterima
kasih sambil memelukku.


Kuselipkan selembar uang seratusribuan hasilku menulis ke tangannya dan memintanya untuk segera menghubungi segera sesudah ia sampai ke Bogor kembali.



Dia berjanji akan pulang dalam 3 hari dan segera
menghubungiku sesampainya dia di terminal ini lagi untuk kujemput.


Hatiku terasa lega bisa membantu Bu Atun. Belum
setelah ia menghilang ke gerbang keluar terminal, perutku bernyanyi makin keras. Aku teringat semangkuk sotoku!. Bergegas aku menuju kembali ke depot.

"Wah mas, tadi ngasih berapa ke Bu Atun?" tanya Ibu penjaaga depot dengan wajah setengah cemas. "Ga banyak kok bu, sedikit saja…asal cukup buat dia balik lagi nanti kesini tiga hari lagi", kataku sembari tidak memperdulikannya lagi. Perhatianku benar-benar sudah tertuju ke semangkuk soto panas yang dari tadi menanti di hadapanku.

"Bukan gitu Mas, dia itu memang kerjanya seperti itu. Berpura-pura butuh uang untuk anaknya…. sudah banyak yang tertipu mas, tadinya saya mau ngingetin mas-nya… tapi sudah terlambat….".

"Astaghfirullah…..", gumamku. Tiba-tiba saja, semangkuk soto itu berubah rasanya menjadi makanan termahal yang pernah kumakan……


 

Mas..aku mencintaimu..!!

March 10th, 2008 by ckaldera



Kuterima lagi hadiah doa dari masku. Walau Mas Alwan memiliki
kekurangan, tetapi kelebihannya jauh lebih banyak. Dia setia, ganteng,
cerdas, bertanggung jawab, berjiwa pemimpin, jago diplomasi,
berkarisma, dll. Hmm, engkau memang tepat menjadi calonku.

Telah
kucalonkan engkau dalam daftar Da’wah Fardiyahku, agar menjadi seorang
ikhwan. Ikhwan yang akan turut mengokohkan barisan da’wah. Akhlak
dasarmu sudah baik, tinggal sedikit dipoles, maka Insya Allah engkau
akan menjadi jauh lebih ganteng dengan keikhwananmu ^ _ ^. Amiin.
Bangsa Arab dulu juga seperti itu kan Mas, mereka memiliki
akhlak-akhlak dasar yang baik; pemurah, menghormati tamu, setia pada
kabilahnya, pemberani, dan lain-lain. Hanya saja akhlak-akhlak baik
Bangsa Arab itu belum sempurna karena dilandasi keinginan untuk dipuji
dan fanatisme buta. Hingga diutuslah sang nabi akhir zaman yang
bersabda, "Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Aku
siapkan agenda Da’wah Fardiyahku untukmu ya. Dari evaluasiku, di tahun
pertama, engkau sedikit sulit dijinakkan (lho?!.memangnya?). Afwan ya
Mas, kalau istilahnya begitu. Karena kalau kata orang-orang, aku dan
engkau bagaikan manusia dari Timur dan dari Barat. Hal itu sering
membuat kita ada dalam kondisi perang dingin dan engkau sering
membuatku berlinang air mata. Perbedaan Timur dan Barat itu sungguh
kentara, tak ubahnya dua peradaban yang saling berbenturan. Karena
engkau suka berkiblat ke millah (cara hidup) dan fikrah (pemikiran)
Barat. Afwan, ketika itu pemahaman fiqh da’wahku masih kurang baik,
sehingga aku langsung main marah saja kalau melihatmu melakukan hal-hal
yang dilarang agama. Dan, nah ya!, aku juga masih ingat ketika aku
pertama kali hijrah dan berjilbab, engkau menyeletuk, "Waduh? kayak
orang padang pasir!"  Aku sedih mendengarnya, tapi biarlah! ini namanya
generasi ghuraba, Mas..

Tahun kedua, da’wahku mulai smooth ya.
Maklum, adikmu ini baru paham fiqh da’wah. Ternyata?., dalam berda’wah
kita harus lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, mengerti apa yang
harus dilakukan dan adil terhadap apa yang harus dilarang. Berda’wah
itu harus bertahap, karena pemahaman setiap manusia berbeda-beda. Dan
tentu saja, tugas kita hanyalah menyampaikan sedangkan hidayah itu dari
Allah saja. "Kamu tidak akan bisa memberi hidayah pada yang engkau cintai".
Tambahan lagi, kesabaran adalah yang utama. Karena tanpanya, kita akan
isti’jal (terburu-buru) inginkan hasil. Padahal Allah tidak menilai
hasil, Dia menilai proses. Maafkan aku, Mas! Aku akan mulai mencoba
memahami dirimu.

Aku termangu menerima hadiah doamu. Mmm..engkau masih ingat, tidak ya? Di minggu pagi yang cerah, aku duduk di
ruang tengah dan engkau keluar dari kamarmu, hendak mencuci mobil di
garasi. Tapi aku tertegun melihat penampilanmu. Wah?, ndak salah nih,
gumamku kala itu. "Mas, kok pake celana pendek, kan ndak boleh tuh?.."
Engkau senyum-senyum mendengar teguranku. "Hehehe, iya nih kalau
ketahuan sama anak rohis di kampusku, pasti aku juga dimarahi! hehehe,"
jawabmu sambil tetap ngeloyor pergi ke garasi. Aku jadi mengernyitkan
kening?. Hmm, sudah tahu tidak boleh, tapi kok masih dipakai juga yah
(?).

Di lain waktu, engkau kerap menggodaku, "Enaak nih Pizza
Hut!", ujarmu sambil mengunyah sepotong pizza yang engkau tahu aku
tidak menyukainya. "Itu kan ndak boleh, diboikot!, makan darah orang
Palestina lho, Mas?.",  jawabku. "Hehehe, biarin! nyam..nyam", katamu.
Tapi di lain waktu, ketika aku membaca Al Qur’an di keremangan malam,
tiba-tiba engkau bangun dari tidurmu dan berbaik hati menyalakan lampu,
menerangiku membaca kitab-Nya. Syukron! :)

Tahun ketiga, sudah ada
dialog antara kita. Dan kalau di evaluasi, engkau hari ini sudah jauh
berbeda dari 2 tahun yang lalu. Paling tidak, engkau tak lagi anti
Islam, sudah rajin shalat, mulai menyadari perjuangan muslim di
Palestina dan bertanya tentang Islam. " Dek!, kenapa sih anak rohis di
kampus itu, kecil-kecil dah pada nikah?" Aku sedikit terkejut dengan
pertanyaanmu. " Oh..itu karena begini dan begitu…" , jawabku. Di lain
waktu engkau bertanya lagi, " Dek, memangnya manfaat Shalat Dhuha itu,
apa?".  " Oh ". Itu karena begini dan begitu.. , jawabku. Engkau
mengangguk-anggukkan kepala. Dan yang membuatku bersyukur adalah ketika
engkau mendukung dan memberikan suaramu untuk partai Islam yang bersih
dan peduli. Aku hanya bisa mengucap hamdalah. (Duh! ya Rabbi..,
sakit..!).

Dan, aku masih termangu menerima hadiah doa darimu.
Sifatmu yang keras, membuat aku teringat akan Umar bin Khattab yang
juga keras, tapi lembut hatinya. Mungkin seperti itulah aku
mengibaratkanmu. Keras di luarnya saja, tapi sesungguhnya hatimu
lembut. Buktinya, engkau menangis kala mbak kita dalam proses ijab
qabul. Dan bukankah dulu Umar benci Islam? Apatah lagi engkau tidak
separah jahiliyahnya Umar, yang sampai mengubur hidup-hidup anak
perempuannya. Sungguh! aku yakin, engkau bisa berubah, sebagaimana
keyakinanku dalam mentarbiyah para mad’u di kampus, karena memang
fitrah manusia adalah Islam.

Hmm, dalam 3 tahun Da’wah Fardiyah,
engkau belum juga menjadi ikhwan, belum ‘mengaji’, belum berda’wah.
Tetapi aku tak akan putus asa, karena engkau masku!, karena aku sangat
merindukan mempunyai mas yang ikhwan!. Aku ingin kita sekeluarga
selamat di dunia dan di akhirat. Sekali lagi, aku tetap yakin, manusia
bisa berubah!

Hadiah doa darimu membuat aku ingin terus
berfikir.  Mas?, sekarang engkau sedang apa ya? Jangan sering pulang
malam, nanti sakit. Apakah sekarang engkau sudah menikah? Sudah punya
anak? Apakah.. dan apak..a. Aduuh! sakit!. Ya Rabbi!., sungguh dahsyat
sakitnya kematian kala kecelakaan itu. Kala ruh berpisah dengan jasad.
Dan Illahi Rabbi.., walau sang maut menjemput bertahun-tahun lalu,
tetapi sakitnya hingga detik ini masih kurasa!. Ya Allah, aku masih
dapat mengingat saat ibu, ayah, mbak dan masku menangisi aku yang
terbujur kaku, mengantarku ke tempat peristirahatan " Ya Rabbi ", kala
itu langit mendung, bunga-bunga ditaburkan di atas tempatku. Sungguh
kehidupan di dunia seperti sehari saja., atau kurang dari itu dan
sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan akhirat yang kekal. Akankah aku
dapat bertemu lagi dengan keluargaku.

(Merenung) Ya Rabbi!,
hingga kini, aku tidak tahu apakah masku sudah menjadi seorang ikhwan?,
yang menjadi bagian dari barisan da’wah untuk meninggikan kalimah-Mu.
Apakah kami dapat bertemu dalam naungan-Mu? Kurindu persaudaraan abadi,
yang bukan hanya karena ikatan darah, tetapi akidah. Ibu.., ayah.,
mbak, mas. Aku mencintai kalian semua. Dan untukmu Mas Alwan, "Mas,
aku mencintaimu karena Allah!".  Semoga kita dipertemukan kembali dalam
naungan-Nya. Jazakallah Mas, atas hadiah-hadiah doamu selama ini, doa
yang besarnya sebesar gunung, yang engkau kirimkan untukku setiap hari,
di setiap shalat malammu. Aku mendengarnya.

Ps. saya bukan abang-abang!!!
quoted from here

Aku ingin menikah Bang!!!

March 2nd, 2008 by ckaldera

   

      

Aku ingin menikah bang!!!

Itu awal dari suratnya…membuat jantungku berdekap kencang, lalu ku baca surat itu perlahan.


Aku ingin menikah bang!!!
Bukan karena aku ingin melakukan hal yang selama ini dilarang oleh agama, tapi aku ingin menikmati pernikahan itu sendiri.


Aku tau tak mudah untuk menjalani sebuah pernikahan, suatu
ikatan erat yang tak bisa dimainkan layaknya orang yang berpacaran.
Tapi aku inginkan itu, aku ingin menikmati susahnya menjadi seorang
istri, mempunyai anak dan mengurus mereka..aku suka akan hal itu dan
aku akan menganggapnya sebagai suatu ibadah karena ada tantangan yang
harus aku lalui, disamping menjalankan roda rumah tangga juga berkarir
untuk diriku sendiri.


Bukankah kau tau, dari dulu aku ingin sekali menikah muda. Kau
mau tau alasannya? Karena aku suka melakukan hal itu, aku merasa bangga
menjadi seorang istri sekaligus menyandang status ibu bagi anak-anakku,
melihat perkembangan mereka dari kecil hingga dewasa menaklukkan rasa
penatku setelah sehari bekerja. Mengurus suami yang sangat aku hormati
juga aku cintai, memberikannya limpahan cinta dan ingin selalu tampil
cantik didepannya. Itulah yang ingin aku lakukakan.


Aku tau ini gak gampang untukmu, aku tau banyak hal yang engkau
fikirkan. Tapi terkadang hal itu hanya sebuah keinginan, dimana manusia
tak bisa lepas dari rasa puas. Saat keinginan engkau telah tercapai,
engkau pasti menginginkan hal yang lain lagi.


Kau tau sayang??menikah itu ibadah, dengan menikah kau telah
menyempurnakan ibadahmu juga agamamu. Menikah bukanlah hal yang paling
manakutkan, setidaknya menurut versiku, karena semua tak akan berbeda,
kecuali hidup bersama dengan kewajiban masing-masing.


Kau masih bisa beraktivitas seperti biasa, yang berbeda hanyalah kurangnya waktu luangmu
diluar rumah karena ada seorang istri yang menantimu dirumah, menyediakanmu segala hal yang engkau perlukan.


Aku bisa membayangkan betapa bahagianya dengan keluarga seperti
itu. Tak ada paksaan juga tekanan, karena semua didasari dengan rasa
sayang juga kebersamaan.


Keinginan ini sudah kupendam sejak lama, hanya saja aku juga gak
bisa sembarangan memilih calon suami yang akan mendampingiku seumur
hidupku.


Satu hal yang perlu kau tau, selama ini aku juga terjebak dalam
dua keadaan yang sangat mengganggu fikiranku, menikah atau berkarir.


Karena jika aku memilih untuk menikah, maka karirku tak seperti
yang aku inginkan, sementara aku juga ingin sukses dalam berkarir,
kebanyakan perusahaan menginginkan karyawan yang belum menikah.


Tapi hasrat ku ini sangat kuat, banyak pro dan kontra akan
keinginanku ini, ada yang memberiku nasehat untuk menyegerakan
pernikahan, ada juga yang menyuruh kami untuk berkarir karena usia kami
yang terbilang muda, hanya saja menurutku usiaku bukan muda lagi,
walaupun masih banyak yang lebih tua usianya dan belum menikah, tapi
aku mengkhawatirkan usia ini. Aku juga mengkhawatirkan kesalahan yang
akan kulakukan dalam menjalin sebuah hubungan yang biasa disebut
pacaran.


Menurutku 1 tahun cukup untuk mengenal karakter masing-masing, dan aku rasa aku telah cukup mengenalmu. Apa fikiranku ini salah?


Mungkin engkau tlah banyak menyusun rencana untuk masa depan
kita, aku dukung semua itu, tapi aku tak mau terlalu berencana bang,
karena terlalu sakit klo semua itu tak seperti yang kita harapkan,
bukankah kita lebih mantap menyusun rencana saat kita sudah menikah?
Menyatukan untuk satu tujuan, apa apa saja yang ingin kita raih dan
kita miliki.


mungkin banyak hal yang terfikir dikepalamu, seperti memiliki
sebuah rumah, kendaraan juga yang lainnya, tapi tidakkah kau tau itu
pasti bisa kita dapatkan dan aku yakin kita bisa mewujudkannya
bersama-sama.


Mungkin engkau adalah penganut faham yang mengatakan belum siap
menikah apabila belum mapan dari segi materil, engkau ingin segalanya
perfect saat engkau ingin melanjutkan sebuah hubungan ke jenjang
pernikahan. Itu wajar, aku tau engkau melakukan semua itu karena kau
ingin membahagiakan aku. Semua itu memang sangat kita butuhkan, apalagi
di era globalisasi seperti ini, dimana persaingan semakin ketat, juga
mahalnya biaya hidup baik primer maupun sekunder.


Tapi sampai kapan kau ingim mewujudkan semua itu?semakin lama
waktu berjalan, semakin banyak yang akan difikirkan, dan semakin mahal
pula biaya hidup yang harus dikeluarkan..tidakkah kau mengerti akan hal
itu.


Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa yang akan
datang, tapi jika kita mempunyai niat yang baik untuk suatu urusan, aku
yakin Allah pasti memberikan kemudahan, apalagi kita mempunyai niat
untuk menyempurnakan.


Tidakkah kau sadari, selama ini engkau telah memiliki niat yang
tulus dalam hatimu, walau engkau sempat merasa putus asa, namun
perlahan tapi pasti, engkau mendapatkannya satu demi satu, tawaran itu
mengalir walau belum seperti yang engkau inginkan, hanya saja itu
adalah proses akan niat baikmu.


Aku tak bisa menjelaskan dengan detail akanhal itu, aku takut
engkau akan merasa seolah aku mengguruimu atau mungkin memaksamu,
bukan-bukan itu yang aku mau, aku hanya ingin meluruskan maksudmu, aku
akan tetap menunggumu. Sampai engkau merasa siap. Tapi aku tak mau
engkau terus berfikir akan semua materil, karena aku yakin seiring
berjalannya waktu kita pasti bisa mewujudkannya bersama-sama.


Banyak orang sukses pada awal ia menikah biasa-biasa saja, tapi
karena mereka mau berusaha, bahu membahu dan didampingi oleh istri
tercinta, akhirnya mereka bisa mewujudkan cita-citanya.
Untuk itu jangan memaksakan diri untuk segera mewujudkannya, aku tak
mau dirimu sakit, hanya kerena bekerja dan tak mengenal waktu
beristirahat.


Engkau mengatakan agar aku tak perlu memikirkan dan
mengkhawatikanmu, tapi aku tak bisa, karena aku tau sikapmu yang selalu
merasa bisa dan menganggap semua mudah, itu yang aku khawatirkan.
Istirahat yang kurang dan tidak beraturan bisa membuatmu sakit,
bagaimana bisa aku tidak memikirkanmu? Kau tau..engkau adalah
semangatku, separuh dari hidupku, ada yang kurang jika sehari saja aku
tidak memikirkan dan mendengar kabarmu, bagaimana bisa aku melupakanmu
jika engkau sudah terpatri dalam hatiku.


Mungkin kau tak pernah tau akan hal itu, seberapa besar aku
mencintaimu, mengharapkanmu tuk menjadi pendampingku. Menjadi imam
untukku juga anak-anakku kelak.


Kadang aku juga merasa heran, mengapa aku begitu menyanjungmu,
tak perduli akan yang lain. Engkau yang terbaik, segalanya untukku.


Sayang aku terus berdoa untuk kita, semoga Allah memberikan kemudahan dan melimpahkan rahmatnya pada kita. Amien….

 


Tak kuasa aku membaca semua itu, pikiranku berputar, mungkin semua
yang dikatakannya pada surat itu benar adanya, surat yang ia kirimkan
padaku karena mungkin tak sanggup untuk dia ucapkan..
hatiku terus berkata, apa yang harus aku lakukan?
Tuhan tuntunlah hambaMu ini….


Inspired by Ayat-Ayat Cinta the Movie