Archive for December, 2005

cermin

Wednesday, December 28th, 2005

saya kok merasa semakin jauh yaaaa…..

dimanakah jalan kembali?

kemana harus berpaling?

kenapa saya ada disini?

manusia tak berdaya yang tak ujung diingatkan…

Wanita Cantik

Wednesday, December 28th, 2005

Saraswati
Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?"
"Karena aku seorang wanita", kata sang ibu kepadanya.
"Aku tidak mengerti", kata anak itu.
Ibunya hanya memeluknya dan berkata, "Dan kau tak akan pernah mengerti"

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?"

"Semua wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.
Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?" 
Tuhan berkata:

"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "

"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak
dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "

"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah,
dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "

"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan,
bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "

"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya
dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "

"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu "

"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.
Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."

Kau tahu:

Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya,
sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."

"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya,
karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."

Karena setiap Wanita itu Cantik…

Buitenzorg

Thursday, December 15th, 2005

Setelah beberapa bulan ini
tinggal di bogor, gw beberapa kali
tertarik sama sebuah kata “BUITENZORG” …(spelling-nya boytenzorgh). Sedikit baca sana-sini…bingo! Inilah hasilnya riset
kecil-kecilan itu….sekedar pengetahuan aja buat yang baca ya.. J

 a tale of buitenzorg…

 Sejarah Bogor
terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal GW Baron Van Imhoff
(1743-1750). Tahun 1744 Van Imhoff meninjau Kampung Baru, sebuah wilayah bekas
Kerajaan Pajajaran yang terletak di hulu Batavia(sekarang Jakarta). Ia merencanakan
untuk membangun wilayah tersebut sebagai daerah pertanian dan tempat
peristirahatan bagi Gubernur Jenderal.

 Setahun
kemudian, van Imhoff memang kemudian menggabungkan 9 distrik - Cisarua, Pondok
Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Darmaga dan Kampung Baru
- ke dalam satu pemerintahan yang disebut Regentschap Kampung Baru
Buitenzorg
. Kesatuan inilah yang menjadi cikal bakal Kabupaten Bogor.Di
kawasan itu Van Imhoff kemudian membangun sebuah Istana Gubernur Jenderal.

 Bangunan ini adalah sebuah tempat peristirahatan yang
luas halamannya mencapai 28.4 hektar dan dengan luas bangunan 14.892 meter
persegi. lstana
Bogor ini dibangun pada bulan Agustus 1744 dan berbentuk
tingkat tiga. Buitenzorg sendiri ada yang mengartikan “without a care”, tapi
menurut Saleh Danasasmita (Sejarah Bogor, 1983) berarti "terlepas dari
kesulitan". Dalam perkembangan berikutnya, nama Buitenzorg dipakai untuk
menunjuk wilayah Puncak, Telaga Warna, Megamendung, Ciliwung, Muara Cihideung,
Puncak Gunung Salak dan Puncak Gunung Gede, yang memang merupakan tempat ideal
untuk beristirahat.

17238_2_1


A View of Government House, Buitenzorg,
Java. Pencil, by Mary Fendall
(1794-1886)

                     

30817_2



      
17238_2Gunung Salak and the Tjisadane, Buitenzorg. Java. by
Mary Fendall (1794-1886)



Buitenzorg (Bogor,West Java):View.
Inscribed: ‘View near Buitenzorg or
Bogor in Java’.
From a three volume edition. John Crawford
(1783-1868)

 

 

Pada zaman
pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) dan Thomas Stan-ford
Raffles (1811-1816) istana Bogor itu
diperbaiki. Raffles bahkan kemudian mempercantiknya dengan taman dan kawanan
rusanya, serta sebuah Kebun Raya seluas 85 hektar. Raffles ini pulalah yang
kemudian menulis "The History of
Java
", yang bahan-bahannya dikumpulkannya sendiri ketika ia berkunjung
ke berbagai tempat bersejarah di Sumatera, Jawa,Bali dan beberapa pulau lain di Indonesia. Konon, seperti diungkapkan oleh
sahabatnya, Kapten Thomas Otho Travers, Raffles menulis buku tersebut di
wilayah sejuk Cisarua.

Namun pada tahun 1834 beberapa bagian dari istana
itu roboh dan hancur akibat adanya gempa yang melanda daerah Bogor dan sekitarnya karena meletusnya Gunung Salak. Pada tahun 1850, Istana
Bogor
dibangun kembali, tetapi tidak bertingkat lagi karena disesuaikan
dengan situasi daerah yang sering gempa itu. Pada tahun 1870, istana Bogor dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal Belanda. Selama masa
Gubernur Jenderal Belanda maupun lnggris (DaendeIs Van der Cappelen dan Sir
Thomas Stamford Raffles),

 

 

 

 

 

Rafflesia
Padma

Bentuk bangunan Istana Bogor telah
mengalami berbagai perubahan. Istana Bogor sebagai tempat kediaman
resmi dari Gubernur Jenderal Belanda maupun Presiden Republik Indonesia mempunyai bangunan induk dengan sayap kiri serta kanan.

 

 

 

 

 

Istana
(previous)

Sebelumnya Istana Bogor dilengkapi
dengan sebuah kebun besar, yang dikenal sebagai Kebun Raya namun pada akhirnya
sesuai dengan kebutuhan akan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan tentang
tanaman tropis, Kebun Raya dilepas dari naungan istana (1817).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Istana Bogor
(now)

life and a cup of coffee….

Tuesday, December 6th, 2005

When things in your life seem almost too much to
handle,
When 24 hours in a day are not enough, remember the
mayonnaise jar …… and the coffee.

1

A professor stood before his philosophy class and had
some items in front of him.
When the class began, wordlessly he picked up a
very large and empty mayonnaise jar and proceeded
to fill it with golf balls.

He then asked the students if the jar was full.
They agreed that it was.
So the professor then picked up a box of pebbles and
poured them into the jar.
He shook the jar lightly. The pebbles rolled into
the open
areas between the golf balls.
He then asked the students again if the jar was
full. They
agreed it was.
The professor next picked up a box of sand and
poured it
into the jar.
Of course, the sand filled up everything else. He
asked
once more if the jar was full.
The students responded with a unanimous “Yes.”
The professor then produced two cups of coffee
from under the table and poured the entire
contents into the jar, effectively filling the
empty space between the sand. The students laughed.

“Now,” said the professor, as the laughter
subsided, “I want you to recognize that this jar
represents your life.

The golf balls are the important things — your
loved ones,
your family, your children, your friends, your
health, your
favorite passions — things that if everything
else was lost
and only they remained, your life would still be full.

The pebbles are the other things that matter like
your job, your house, your car.

The sand is everything else — the small stuff.”

“If you put the sand into the jar first,” he
continued, “there is no room for the pebbles or
the golf balls. The same goes for life. If you
spend all your time and energy on the small stuff,
you will never have room for the things that are
important to you. Pay attention to the things that
are critical to your happiness. Play with your
children. Take time to get medical checkups. Take
your spouse out to dinner. Play another 18 holes.
There will always be time to clean the house and
fix the disposal.

“Take care of the golf balls first, the things
that really
matter. Set your priorities. The rest is just sand.”

One of the students raised her hand and inquired
what the coffee represented.

The professor smiled. “I’m glad you asked. It just
goes to
show you that no matter how full your life may
seem, there’s always room for a couple of cups of
coffee with a friend.” :)
==================================

cerita ini mungkin cerita lama, tapi kmarin pas baca….bikin mikir…kira-kira, have i put my stones yet? :)

ade…

Tuesday, December 6th, 2005

beberapa hari ini lagi suka banget sama lagu ini… :) , benernya mengulang kenangan pahit sih… tapi yaa..itu kan resiko…. :)
==========================
I DO
(by ten 2 five)

all this brightner i wanna swear
i’ll always be there by your side
it’s a promised u babe…
that i’ll always treat u by.

coz..so many man i know
you’ll the one that i’ll love so true
every bit thing u do to me
nobody else can do…

i do …love u
i do …need u
i do …think about u
there’s nothing more that i want but u…
==========================

TERPESONA
by. glenn fredly

saat kita jumpa….
ada rasa di dalam dada
kau tersenyum manja..
membuatku terpana…

akupun tak bisa, tuk menahan gejolak diri
ingin kukatakan, aku menyukaimu….

hanya dirimu…yang aku suka…

terpesona ku pandangan pertama
dan tak kuasa menahan rinduku
senyumanmu slalu menghiasi mimpiku
ingin kupeluk dan kukecup keningmu

oh..indahnya… :) =============================

oiyaa….klo ada salah spelling..maap yaa…kuping dah tua nih.. :P

Thursday, December 1st, 2005

Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini.

Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah. Badan yang lelah ditambah dengan "acara" kehujanan. Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala.

Dia menyilahkan saya duduk. "Disini saja dik, daripada kehujanan…," begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh. Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak p enjual dan tendanya, saya berkata, "tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja."

Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar. Tangannya
cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera saja,mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggung mulai hilang.

Basa-basi saya bertanya, "Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh kearah saya, dan berkata, "Iya dik, jadi sepi nih
dagangan saya.." katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam.

"Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya, "Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?" Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan
membuat Bap ak itu tambah sedih.

Namun, agaknya saya keliru…

"Gusti Allah, ora sare dik, (Tuhan itu tidak pernah istirahat), begitu katanya. "Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun
nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya."

Bapak itu melanjutkan, "Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan….."

Deg. Duh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, "Gusti Allah ora sare." Tuhan Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya,tampak
tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Maknanya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan. Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi
banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki i tu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus
bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok. Hmm… saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak dibenak saya. "Ya Tuhan, Engkau memang tak pernah beristirahat."

Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare….. Gusti Allah Ora Sare…..

Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan sa ya. Tuhan memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi
semakin banyak belajar.

Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus
ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan. Namun, rupanya tahun ini Tuhan punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya
selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Tuhan pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.

Aku berdoa agar diberikan kekuatan…
Namun, Tuhan memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya.

Aku b erdoa agar diberikan kebijaksanaan…
Namun, Tuhan memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya.

Aku berdoa agar diberikan kecerdasan…
Namun, Tuhan memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya.

Aku berdoa agar diberikan keberanian…
Namun, Tuhan memberikanku persoalan agar aku mampu menghadapinya.

Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang…..
Namun, Tuhan memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengan mereka.

Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan…
Namun, Tuhan memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.