Buitenzorg

Setelah beberapa bulan ini
tinggal di bogor, gw beberapa kali
tertarik sama sebuah kata “BUITENZORG” …(spelling-nya boytenzorgh). Sedikit baca sana-sini…bingo! Inilah hasilnya riset
kecil-kecilan itu….sekedar pengetahuan aja buat yang baca ya.. J

 a tale of buitenzorg…

 Sejarah Bogor
terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal GW Baron Van Imhoff
(1743-1750). Tahun 1744 Van Imhoff meninjau Kampung Baru, sebuah wilayah bekas
Kerajaan Pajajaran yang terletak di hulu Batavia(sekarang Jakarta). Ia merencanakan
untuk membangun wilayah tersebut sebagai daerah pertanian dan tempat
peristirahatan bagi Gubernur Jenderal.

 Setahun
kemudian, van Imhoff memang kemudian menggabungkan 9 distrik - Cisarua, Pondok
Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Darmaga dan Kampung Baru
- ke dalam satu pemerintahan yang disebut Regentschap Kampung Baru
Buitenzorg
. Kesatuan inilah yang menjadi cikal bakal Kabupaten Bogor.Di
kawasan itu Van Imhoff kemudian membangun sebuah Istana Gubernur Jenderal.

 Bangunan ini adalah sebuah tempat peristirahatan yang
luas halamannya mencapai 28.4 hektar dan dengan luas bangunan 14.892 meter
persegi. lstana
Bogor ini dibangun pada bulan Agustus 1744 dan berbentuk
tingkat tiga. Buitenzorg sendiri ada yang mengartikan “without a care”, tapi
menurut Saleh Danasasmita (Sejarah Bogor, 1983) berarti "terlepas dari
kesulitan". Dalam perkembangan berikutnya, nama Buitenzorg dipakai untuk
menunjuk wilayah Puncak, Telaga Warna, Megamendung, Ciliwung, Muara Cihideung,
Puncak Gunung Salak dan Puncak Gunung Gede, yang memang merupakan tempat ideal
untuk beristirahat.

17238_2_1


A View of Government House, Buitenzorg,
Java. Pencil, by Mary Fendall
(1794-1886)

                     

30817_2



      
17238_2Gunung Salak and the Tjisadane, Buitenzorg. Java. by
Mary Fendall (1794-1886)



Buitenzorg (Bogor,West Java):View.
Inscribed: ‘View near Buitenzorg or
Bogor in Java’.
From a three volume edition. John Crawford
(1783-1868)

 

 

Pada zaman
pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) dan Thomas Stan-ford
Raffles (1811-1816) istana Bogor itu
diperbaiki. Raffles bahkan kemudian mempercantiknya dengan taman dan kawanan
rusanya, serta sebuah Kebun Raya seluas 85 hektar. Raffles ini pulalah yang
kemudian menulis "The History of
Java
", yang bahan-bahannya dikumpulkannya sendiri ketika ia berkunjung
ke berbagai tempat bersejarah di Sumatera, Jawa,Bali dan beberapa pulau lain di Indonesia. Konon, seperti diungkapkan oleh
sahabatnya, Kapten Thomas Otho Travers, Raffles menulis buku tersebut di
wilayah sejuk Cisarua.

Namun pada tahun 1834 beberapa bagian dari istana
itu roboh dan hancur akibat adanya gempa yang melanda daerah Bogor dan sekitarnya karena meletusnya Gunung Salak. Pada tahun 1850, Istana
Bogor
dibangun kembali, tetapi tidak bertingkat lagi karena disesuaikan
dengan situasi daerah yang sering gempa itu. Pada tahun 1870, istana Bogor dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal Belanda. Selama masa
Gubernur Jenderal Belanda maupun lnggris (DaendeIs Van der Cappelen dan Sir
Thomas Stamford Raffles),

 

 

 

 

 

Rafflesia
Padma

Bentuk bangunan Istana Bogor telah
mengalami berbagai perubahan. Istana Bogor sebagai tempat kediaman
resmi dari Gubernur Jenderal Belanda maupun Presiden Republik Indonesia mempunyai bangunan induk dengan sayap kiri serta kanan.

 

 

 

 

 

Istana
(previous)

Sebelumnya Istana Bogor dilengkapi
dengan sebuah kebun besar, yang dikenal sebagai Kebun Raya namun pada akhirnya
sesuai dengan kebutuhan akan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan tentang
tanaman tropis, Kebun Raya dilepas dari naungan istana (1817).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Istana Bogor
(now)

Leave a Reply