Jangan Menjadi Ibu Rumah Tangga

 

”Melanjutkan
sekolah S2 dan selanjutnya meniti karier menjadi seorang engineer
professional”, jawab temanku seorang mahasiswi dari jurusan teknik sebuah
perguruan tinggi top di Bandung. ”Kalau gue sih mau langsung kerja aja lah
dikantor, males gw kalau harus sekolah lagi, lagian juga udah cukup koq pola
pikir yang gue dapet di bangku kuliah sebagai bekal gue untuk berkarir, jadi
langsung meniti karir aja lah.”
Jawab mahasiswi
yang lain.

 

Iocast

”Terus jika
kalian sibuk meniti karier kalian, gimana dong nasib anak-anak dan suami kalian
kelak?” tanyaku. ”Kalau maksud mas bahwa seorang wanita harus menjadi ibu rumah
tangga dan hanya mengurus suami dan anak-anak, wah sekarangkan jaman sudah
berubah mas, sekarang kita cewek-cewek sudah punya posisi dan kesempatan yang
sejajar dengan kaum pria untuk berkarya dan mengaktualisasikan diri dan urusan
keluarga tidak menjadi hambatan dong dalam berkarier, kan bisa pakai pembantu
untuk urusan rumah. Anak? Yah tinggal diatur aja deh waktunya, jadi semua
kebagian antara keluarga dan karier, sudah cape-cape kuliah dan punya kapasitas
serta kesempatan lebih, sayangkan mas kalau tidak diberdayakan.”

 

Demikianlah,
gambaran umum masa depan pilihan para mahasiswi dari kota-kota besar dan
berpendidikan tinggi. Feminisme, kebebasan kaum perempuan, aktualisasi diri,
kesejajaran kesempatan dan hak dengan kaum laki-laki, ”smart women” telah
membuat wanita-wanita tersebut lebih memilih menjadi seorang wanita karier dari
pada menjadi seorang ibu rumah tangga.

 

Namun benarkah
dengan menjadi ibu rumah tangga maka seorang wanita akan terkekang hak-haknya,
tidak dapat mengaktualisasikan dirinya, tertindas oleh kaum lelaki, menjadi
mandul pola fikirnya? Dan dengan menjadi seorang wanita karier maka akan
terpenuhi keinginan ”idealis” tersebut, benarkah?……..

 

Wanita lebih
rendah daripada seorang laki-laki adalah sebuah paradigma dalam masyarakat.
Dimanapun seorang wanita menempatkan diri baik sebagai seorang ibu rumah tangga
ataupun wanita karier, maka paradigma tersebut pun dapat bekerja pada situasi
keduanya, dan paradigma ini sangat lekat di dalam masyarakat kita.

 

Laki-laki dan
wanita diciptakan sejajar, sama penting, unik (berbeda dgn ciri khasnya
masing-masing), dan saling melengkapi, seperti siang dan malam. Tanpa siang,
bagaimana mungkin proses fotosintesa dapat belangsung, lantas bagaimana jadinya
dunia tanpa tumbuhan?. Tanpa malam bagaimana mungkin ikan-ikan dilautan dapat
makan? Bagaimana jadinya dunia tanpa ikan? Karena saat malamlah saat dimana
temperatur menjadi cukup rendah dan sangat cocok bagi zooplankton untuk dapat
naik ke daerah pemukaan air, dan mencari makan, dan zooplankton inilah yang
menjadi santapan ikan sehingga ikan-ikan dapat hidup. Siang dan malam, memang
berbeda tetapi saling melengkapi bukan?

 

Seorang laki-laki
yang tidak peduli akan kehadiran seorang wanita, apakah dia lupa kalau dia
dilahirkan dari janin ibunya yang merupakan seorang wanita? Jika ia mengaku
tidak membutuhkan seorang wanita, maka hasrat seksual, cinta dan spiritualnya
mau dilabuhkan kepada siapa? J
ika ia memilih untuk hanya mencintai Tuhannya saja ,
lho katanya cinta, koq bisa-bisanya menghindar dari anugrah-Nya yang teramat
besar dan indah, istri dan anak-anak.

 

Jadi jelaslah
bahwa wanita dan pria memang sejajar, sama penting, unik (berbeda dgn ciri
khasnya masing-masing), dan saling melengkapi. Dan subordinasi seorang wanita hanyalah sebuah paradigma bukan sebuah
pilihan.

 

Pregnant_womanAda sebuah
pertanyaan unik yang terdapat pada sebuah buku yang mengupas tentang ibu dan
anak, ”ngapain sih punya anak? mengandungnya saja sudah repot, melahirkannya apa
lagi. Ketika bayi bikin tidur orang tuanya tidak nyenyak, saat balita bikin
ribut dan berantakan seisi rumah, besar sedikit sibuk pacaran dan jadi suka
membantah, setelah kuliah jadi demonstrans sudah itu lama lagi lulusnya, setelah
lulus bingung cari kerja (hei..hei… is that you ?
J), setelah berkeluaraga dan mau ngantor bingung anaknya mau dititipkan kepada siapa. Lantas kenapa
sih mau punya anak??

 

Konon menurut
orang-orang bijak, ada sejenis cinta yang disebut cinta altruistik. Uniknya
cinta jenis ini hadir dalam wujud kenikmatan dalam memberi. Pamrihnya bukan
material melainkan sebuah kondisi intuitif yang suci, kudus dan dalam. Dimana
pada saat itu ia dapat hadir sebagai sosok yang tidak hanya bermaka, tetapi
juga unik dan seakan ada perasaan yang menyatakan kepadanya bahwa cintanya
tidak lenyap tersapu angin.

 

Cinta seperti
inilah yang membuat seseorang ibu sangat ingin barang kesayangannya diminta
oleh putrinya, ia akan dengan sabar menyimpan dan merawat barang tersebut
selama bertahun-tahun hanya untuk sekedar mendengar putrinya kelak akan meminta
barang tersebut, aneh ya?  Sangat
intuitif dan dan ikhlas.

 

Mother_childKepadaku yang
sudah mahasiswa, ibu kerap, dengan nada keibuannya yang lembut ”nak, kamu mau
bawa makanan apa aja pulang ke bandung? nih rotimu, nih air minumnya, thermosnya
jangan lupa dibawa ya, mau bawa rendang nak? kuenya juga ya? nasi? Nak, jaketmu
udahkan?, baju? Nak, makanmu dikostan gimana? Nak, diminum dulu susunya, baru
nanti berangkat ya, jangan sampai nggak diminum ya” , sesaat aku akan berangkat
ke bandung untuk kembali kuliah di kampus setelah weekend barang 1-2 hari dirumah. Kalau difikir-fikir, tidakkah
kalimat-kalimat tersebut tidak dewasa dan mendewasakan? Seorang mahasiswa bukan
lagi anak TK atau SD kelas 3, yang mau sebegitu repot-nya bawa ini-itu
”sepasar” dan harus diingatkan berulang-ulang dan selalu untuk minum susu
buatan ibunda tersayang, tidakkah bisa buat susu sendiri? Makanku dikost-an?
Yah gampanglah tinggal menclok ke kantin asrama, makan, bayar, udah gk ada yang
repot kan? Nasi? Walah segala nasi harus dibawa-bawa? Koq yo harus repot-repot
bawa nasi? Koq mau-maunya sih ibu repot menyiapkan segalanya Ck..ck..ck…(sambil
geleng-geleng sirah… i love u mom!!!
J ).

 

Tapi begitulah intuisi,
perasaan, kangen dan khawatir, peduli, dst-nya  seorang ibu kepada anaknya, seperti tidak pernah dewasa. Bahkan kelak
ketika anak tersebut telah berkeluarga sekalipun, pertanyaan-pertanyaan
intuitif tersebut 1-2 kali pasti akan muncul pada situasi-situasi yang hampir
mirip, aku yakin! Sebuah ketidakdewasaan yang menguatkan, meneguhkan, indah,
tulus, suci, hangat.

 

12Wanita adalah
mahkluk intuitif, penyabar, pecinta, penyayang, pemaaf, lembut, manja, tulus,
teguh da peneguh, kuat dan penguat, perindu, rapuh, indah dan gemulai, hangat,
pemberi, perasa dan lemah. Adakah yang salah jika sifat-sifat tersebut kita
attributkan pada seorang wanita? Tidakkah sifat-sifat tersebut hadir dalam sosok seorang ibu ?


Anak-anak
terutama balita membutuhkan pengalaman yang merangsang pancaindera. Namun,
indera mereka perlu dilindungi dari rangsangan yang berlebihan dan tidak tepat karena
anak-anak itu ibarat sepon, mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar,
dicium, dirasakan, dan disentuh dari lingkungan mereka. Kemampuan otak mereka
untuk memilah atau menyaring pengalaman rasa yang tidak menyenangkan dan
berbahaya belum berkembang.

 

Tahukah anda
bahwa seorang anak yang berusia dibawah 5 tahun sangat tidak dianjurkan untuk
menonton televisi, karena pada saat ini merupakan periode di mana miliaran sel
glial terus bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel syaraf ini dapat membentuk
ribuan sambungan antarneuron yang disebut dendrite yang mirip sarang laba-laba.
Pada usia ini otak mereka memang punya kemampuan besar untuk menyusun ribuan
sambungan antarneuron bahkan 5-7 kali lebih cepat dari pada orang dewasa, dan
menonton televisi dapat mengacaukan proses pembentukan sambungan antar neuron
tersebut. Sehingga seorang anak dapat menjadi tidak lagi kreatif dan cendeung
melakukan tindakan-tindakan yang monoton juga tidak bisa berkonsentrasi dalam
melakukan pekerjaan.

 

Pernahkah
memperhatikan seorang anak yang bermain datas sebuah mainan yang bergerak maju
mundur kiri-kanan secara monoton di sebuah pusat perbelanjaan? tidakkah gerakan
kiri-kanan atau maju-mundur itu terlalu miskin? berkembangkah otak mereka
bermain diatas kuda-kudaan, atau gajah-gajahan tersebut? jawabnya jelas tidak,
karena hanya otak primitif mereka (yang mengatur gerak-gerak) saja yang
terstimulus sedang otak fikir mereka tidak.

 

Bandingkan
dengan ketika si anak belajar merapihkan rumah dan berkebun bersama ibunya. Tidakkah
si anak lebih terpenuhi hasratnya untuk bereksplosai terhadap lingkungan
sekitarnya (eksplorasi adalah sifat dasar dari anak-anak yang mencerminkan
proses berkembangnya otak mereka), ketika ia bertemu dengan hewan-hewan kebun seperti
ulat, ayam, cacing dengan ktivitasnya, pasti akan banyak pertanyaan dan tingkah
polah si anak yang lebih menarik untuk diperhatikan daripada naik kuda-kudaan
palsu di pusat perbelanjaan. Murah, kreatif, dan mengajarkan moral kepada sang
anak.

 

Begitu banyak
sisi mendidik anak, sejak mereka balita, ketika mereka menginjak remaja, mereka
akan dihadapkan kepada banyak pilihan, yang kalau salah dalam memilih malah
akan menjerumuskan mereka. Dapatkah proses ini berjalan dengan sempurna tanpa
campur tangan yang dalam dari seorang ibu? Dapatkah dialihtanggungjawabkan
kepada seorang pembantu atau playgroup? tidakkah ada keindahan yang terlewatkan?
dapatkah proses berfikir dalam mendidik anak-anak di pertimbangkan sebagai
sebuah proses yang hanya menuntut pendidikan yang rendah dari seorang ibu?

 

Motherchild800

Karier sebagai
ibu rumah tangga menuntut pendidikan yang sama atau malah lebih dibanding dengan
karier apapun di luar ruamah. Karier yang sangat kompleks dan mulia ini
bersangkutan dengan tugas merawat , manusia anak-anak, muda dan tua, dan inilah
pekerjaan yang tersulit didunia. Dan itu semua..hanya bisa dilakukan oleh
seorang wanita…….

Leave a Reply