Perempuan Tanpa Kepala

Kata
sebagian orang perempuan itu masih ada disana. Terkadang hanya tercium bau
parfumnya. Menyengat, membuat orang-orang yang mengantre itu celingukan. Dan si penjaga
wartel akan mengangkat telunjuk di depan bibirnya. Mengisyaratkan: tenang, tak
ada apa-apa, dan tak perlu cemas karena hal macam itu sudah biasa. Dan banyak
orang yang bilang bisa melihat sosok perempuan itu duduk seperti sedang
mengantre, sambil sesekali menekan-nekan HP-nya, yang tampaknya tak direspons
seseorang di seberang.
Yasmin
–penggemar komik Jepang yang jadi penjaga wartel- bilang kalau perempuan itu
berkali-kali menelepon ke satu nomor HP dan sebuah nomor telepon permanent.
Fakta yang nantinya, membimbing polisi kepada sosok Rusdi.
Perempuan
itu lampai. Rambutnya lurus. Dibelah tengah dan dibiarkan tergerai melalui pipi
mencercah dada. Celana jeans ketat dari jenis halus, dengan hiasan garis merah
berstrip putih di sisi luar. Model hipster dengan sabuk kulit bergesper besar.
Memakai T-shirt gantung dengan jaket. Membawa tas punggung alit dan dengan HP
mungil yang tergenggam di tangan kanan.
Ketika
pertama kali masuk ia bertanya, apa bisa menghubungi HP? Yasmin, dengan minat
terpusat pada sebuah komik, tersentak dan mengangguk. –kaget mesti sejak awal
ia disergap bau parfum. Tapi perempuan itu tak langsung masuk bilik bicara. Ia
menghidupkan HP dan menghubungi nomor favoritnya. Sekian detik aktif, kemudian
dimatikan.
“Kenapa
selalu non-aktif?” katanya, lebih pada dirinya sendiri. Yasmin tidak bereaksi,
ia memperhatikan komputer dan menebak nomor yang dihubungi. Ia melihat sasaran
kontak itu berganti ke nomor permanen.
Sesaat dari seberang diangkat ada kontak, tapi tidak berlangsung lama. Perempuan itu keluar. Menanyakan biaya, tapi
tak segera membayar karena karena ia menelepon nomor itu lagi dari HP-nya.
“Halo?
Selamat siang. Bisa dihubungkan dengan Guna Darma? Apa? Oo… ini dari rekanannya
di CV Sadewa Perkasa. Masalah kontrak sub-tenderlah, Mbak. Bisa?” katanya. Kemudian
sunyi. Lantas ia bergegas menyapa dan kemudian marah karena jawaban atas sapaan
pertama itu diakhiri dengan komunikasi yang putus. Ia menggeram. Pipinya
menggembung karena rahangnya menegang, ia melirik kepada Yasmin. Minta agar
mengontaknya sekali lagi. Tapi kontak itu tak berbalas. “Lelaki itu bajingan!”
sergahnya. Ia balik ke kursi dan mulai menghidupkan HP-nya. Mengirim SMS dan
SMS dan SMS – tidak peduli itu didelay karena HP yang dihibunginya dimatikan.
Kemudian ia bangkit. Bertanya dimana bisa mendapat voucher pulsa tambahan.
Yasmin menunjukkan. Berteriak ketika si perempuan beranjak sambil tak ingat
membayar pulsa pemakaian telepon wartel. Perempuan itu – pinggul dan pantatnya
berisi – menengok dan bilang akan kembali lagi nanti.
Yasmin
memaki. Tapi perempuan itu memang kembali lagi. Ia menelepon dari telepon
permanent wartel ke telepon kantor (si perempuan itu mengatakannya begitu
kepada yasmin), berkali-kali. Bahkan Yasmin sendiri yang menelepon dan didikte
untuk berbicara apa ketika berbicara di telepon ketika berhubungan dengan
kantor Guna Darma tersambung. Dipaksa mengaku sebagai rekanan yang butuh tanda
tangan untuk mencairkan cek. Dipaksa mengaku sebagai rekanan yang butuh detail
teknis untuk melancarkan pengajuan proposal. Dan ketika itu juga tak berhasil
maka Yasmin disuruh mengaku sebagai wartawan yang sedang konfirmasi hal skandal
seks Guna Darma.
Dengan
gertakan itu, kemudian ada respon. Guna Darma muncul. Ia menyapa – dan telepon
langsung disambar perempuan itu. Dan Yasmin yang sedang menikmati sensasi di
cungkup di ruang kaca sempit dengan si perempuan wangi yang gelisah itu
bergegas mundur. Bahkan beranjak meski masih bisa menangkap teriakan perempuan
itu. Katanya, “Ini aku Nunuk Wulandari. Aku hamil! Dan….”
Yasmin
duduk lagi di kursi tunggu. Memperhatikan computer dan mengawasi halaman parkir
yang lengang dan jalanan yang dipenuhi kendaraan yang bergerak lepas di tengah
terik siang hari. Ia menghidupkan radio dan menikmati acara campursari yang
melulu dipenuhi dengan suara pemirsa yang menelepon dan omongannya disiarkan
on-air, lebih lama dari masa putar sebuah lagu.
Kemudian
si perempuan itu muncul. Minta rincian pemakaian telepon dan menunggu kumpulan
secarik kertas sambil mengatakan bahwa lelaki hanya bisa merayu dan pingin yang
seenak-enaknya saja, serta baru tahu diri dan mau diajak bicara setelah
diancam. Ia menerima semua rincian yang tidak seberapa itu. Membayarnya dengan
lembaran sepuluhribuan yang masih kaku.
Yasmin
menerima dan pelan bergerak menarik laci kas, ketika si perempuan itu
memberikan seluruh uang kembaliannya. Tapi Yasmin tetap melakukan prosedur
resmi sebelum memasukkan uang kembalian ke saku celananya. Tersenyum
mengucapkan terimakasih pada perempuan yang sedang menebalkan rias bibirnya di
cermin kecil. Yang Cuma menggumamkan pengiyaan. Sesaat memiringkan kepalanya, lalu
dengan ringan bertanya : apa Yasmin mau menikahinya bila nanti lelaki itu
menolak mengawininya.
Yasmin
tersipu….perempuan itu tertawa….
“Aku
punya potret berdua sedang telanjang, bahkan sedang dinaikinya – diambil dengan
ponsel,” katanya setengah mengobral ancaman. “Meski aku tidak akan tega
mempermalukannya. Tahu kenapa? Aku mencintainya. Ia romantis. Bersamanya –
walau Cuma semalam – membuat aku marem, sungguh!!” Yasmin memperhatikan perempuan itu menyandar
dan terpejam. Memperhatikan lehernya yang jenjang dan dadanya yang membulir
bagai papaya sayur dipancung dibuang getahnya.
“Kalau
aku dinikahinya aku akan mengundangmu!” katanya sambil bergerak duduk tegak.
Mengambil rokok dari tas, menawari Yasmin, dan menyulutnya sebatang. Bangkit.
Hilir-mudik. Kemudian memasukkan rokok dan geretan yang terletak di meja ketika
sebuah mobil kijang mendekat dan parkir di halaman, tanpa mematikan mesinnya.
Sebuah kepala melongok keluar. Berteriak memanggil si perempuan – Yasmin ingat
nama perempuan itu seperti ingatan akan bau parfum atau rokoknya.
Perempuan
itu pamit kepada Yasmin. Bergegas menaiki pintu sisi kiri mobil yang dibuka si
lelaki dari sisi mengemudi. Kemudian pintu ditarik menutup nyaris sekian detik
setelah mobil menggelundung menuju tepi jalan – dan masuk kea rah timur tanpa
menyeberang, Yasmin melupakannya ketika radio kecilnya melantunkan lagu lama
Didi Kempot, sekonyong-konyong koder. Kembali kepada buku komik jepang
kesukaannya. Masuk pada tugas dinasnya yang menjemukan menunggu orang bicara tanpa tahu berbicara kepada siapa dan
tentang apa. Tapi ia memang dibayar untuk itu.
Dan
kata banyak orang perempuan itu masih ada disana. Terkadang bau parfumnya
muncul menyengat, terkadang hanya aroma tipis asap rokok – dan banyak yang
bersaksi pernah melihatnya muncul, hilir mudik gelisah, atau duduk memainkan
HP. Dan hari itu Yasmin berdinas sampai nyaris di tengah malam. Pulang
digantikan temannya dan besoknya ia
masuk dan berdinas mulai tengah hari.
Dan
pada siang itulah ia membaca kisah penemuan mayat dimutilasi di Koran. Dua
tungkai, dua tangan dan torso tubuh diketemukan – tetapi kepalanya hilang. Ia
mendadak merasakan kehadiran perempuan itu di ruang wartel yang sepi. Bau
parfumnya menyengat. Ia menengadah memperhatikan si perempuan itu mondar-mandir.
Menatap dan berbalik untuk lenyap ditelan dinding. Yasmin terkesiap.
Dan
pelan-pelan merasa akrab dengan rincian pakaian si korban di Koran. Ia menutup
wartel dan pergi ke RSU – 5km di timur kota. Memeriksa sosok korban, menyatakan bisa
mengenalinya, dan kemudian melapor kepada polisi. Polisi itu membawanya ke
wartel. Memeriksa rincian computer. Lantas mengajaknya pergi ke kantor dan
rumah Guna Darma. Penangkapan dilakukan. Interogasi dikerjakan. Dan proses
verbal pun dilakukan. Dan kata banyak orang, perempuan itu masih suka muncul
disana……..
