Archive for March, 2006

inspiring people…

Thursday, March 23rd, 2006

463

Bing Hartojo Tugiarso: Dari Sales Menjadi Raja Pulpen 


Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.
Pepatah itu
sangat cocok untuk menggambarkan perjalanan hidup Bing Hartojo
Tugiarso. Bayangkan, setamat SMA, Bing memutuskan hijrah dari tanah
kelahirannya, Madura, untuk mengadu nasib di Ibukota Jakarta. Sialnya,
pekerjaan yang dia dapat justru yang paling tidak diinginkan orang:
Salesman. Bing menyebutnya “profesi kepepet”. Tapi apa mau dikata,
keahlian dia tidak punya. Pertanyaan sang paman mau kerja apa, juga
susah dijawab. Jadilah Bing seorang wiraniaga. Sialnya lagi, sebagai salesman,
dia harus berputar-putar di Jakarta menjajakan pulpen dagangannya.
Padahal, Jakarta masih menjadi “rimba” untuknya. Maklum, Bing masih
buta terhadap peta Jakarta.

Hidup harus terus mengalir. Begitulah kira-kira yang ada di pikiran
Bing saat itu. Pernah suatu ketika, Bing bertanya kepada seseorang
tentang alamat yang ingin dituju. Tapi arah yang ditunjuk malah
berlawanan. Padahal, uang di saku hanya cukup untuk ongkos sekali
jalan. Terpaksa dia harus pulang jalan kaki. Lapar dan haus menemani
Bing setiap hari karena gaji dan komisi sangat kecil, bahkan tidak
cukup. “Uang yang didapat di-paspasin saja. Terkadang siang saya tidak makan nasi. Saya menggantinya dengan roti, buat mengganjal perut saja,” kenangnya. 

Tapi masa bersakit-sakit sudah berlalu. Dari profesi awal yang digeluti sebagai sales pulpen, kini Bing memiliki perusahaan sendiri di bawah bendera PT Anugerah Dwi Abadi—produsen ballpoint merk Hotliner. Berikut penuturan perjalanan hidup ayah dua putri ini kepada Noor Yanto dari Majalah MARKETING.

Bagaimana kisah Anda awalnya memilih profesi sales?
Selepas SMA, tahun 1979, saya merantau ke Jakarta. Saya tidak tahu
kalau akhirnya harus memasarkan pulpen. Di iklan yang saya baca, hanya
ditulis mencari seorang sales. Saya sempat bingung juga, orang Madura kok
disuruh jualan di Jakarta. Ha..ha…ha…. Jalan saja, saya tidak tahu.
Dan belum ada langganan. Seorang Sales itu kan harus punya langganan
dan network. Nah, disuruh jadi sales, saya bingung, gimana
caranya? Mungkin kalau di Madura, saya belum tentu mau. Dulu opininya,
menjadi sales itu kalau hanya kepepet. Saya pikir-pikir, sudah
menumpang sama oom saya, lalu dia kasih pekerjaan, masa harus ditolak?
Memang saya sempat ditanya, kamu mau kerja apa? Saya juga bingung,
tamatan SMA mau kerja apa?

Pengalaman apa yang didapat pertama kali?
Ya, nyasar-nyasar. Saya disuruh kemana saja belum tentu tahu. Kalaupun
tanya orang, ternyata belum tentu juga tahu. Saat itu, uang makan habis
untuk transpor. Itu pengalaman yang paling berkesan. Sering sekali saya
dapat uang makan yang tidak cukup. Komisi dan gaji sangat kecil.
Apalagi di bulan-bulan pertama masih cari langganan, belum ada omzet.
Jadi uang yang didapat, di-paspasin saja. Terkadang siang saya tidak makan nasi. Biasanya saya mencari roti buat mengganjal perut saja.

Ini nasib atau memang pilihan Anda saat itu?
Kalau saya sempat berpikir, belum tentu saya mau jadi sales. Hanya saja di Jakarta ini, saya tidak mungkin menumpang terus (sama oom).

Produk yang pertama Anda pasarkan merek apa?
Merek Bic, pulpen dari Perancis.

Berapa lama Anda bekerja di sana?
Saya mulai Salesman hingga Sales Manager. Menjadi Salesman selama lima
tahun. Lalu Supervisor selama dua setengah tahun. Kemudian diangkat
jadi Sales Manager.

Dari sana, pindah ke perusahaan apa?
Saya sebentar di ABC, hanya setahun saja. Produknya adalah pasta gigi.
Di ABC saya menjadi Brand Manager. Lalu saat ada lamaran Marketing
Manager untuk alat tulis, tetapi syarat umur tidak mencukupi. Waktu
itu, saya hanya iseng-iseng saja. Dan saya pikir, kayaknya ini bidang
saya. Jadi saya melamar, waktu itu grupnya Bank Umum Nasional. Nothing to loose,
tidak diterima juga tidak apa-apa. Dalam iklannya tertulis, minimal
berusia 35 tahun. Saya baru 27 saat itu. Ya sudah, saya coba saja. Eh,
malah diterima.

Bagaimana cara Anda belajar?
Dari atasan saya. Dia menyuruh A, saya jalankan dan kalau mentok saya
kembali ke dia. Yang penting saya kerjakan dulu. Saya bilang ke dia,
“Mentok nih,
bos. Langganannya mau seperti ini.” Lalu dia bilang, “Oh, kamu mesti
begini.” Kemudian saya coba lagi. Nah, saya dapat ilmu baru lagi.
Lama-kelamaan saya pintar sendiri. Ha..ha…ha…

Saya pertama kali kan tidak tahu apa-apa. Orang komplain satu hal, saya
tidak bisa menjawab. Contohnya, “Tadi saya dapat keluhan ini.” Bos saya
menjawab “Oh, lain kali kamu harus jawab begini.” Oke, saya dapat satu
ilmu kan? Sewaktu dapat keluhan sama, saya bisa menjawabnya. Tetapi,
ketika dapat kasus lain saya balikin lagi ke atasan saya. Saat itulah saya banyak bertanya dan mendapatkan ilmu.

Apa seninya menjadi Sales?
Saya punya hobi jalan. Saya bersyukur jadi Sales, bisa keliling
Indonesia. Setelah lama berkecimpung di dunia ini, saya berpendapat
seni bernegosiasi itu hal yang utama. Kenapa orang harus membeli produk
kita, berarti negosiasi kan? Saya sendiri kalau ditolak tidak apa-apa.
Kita tidak bisa memaksa dalam berjualan. Dari situ saya justru belajar,
kenapa mereka tidak membeli produk kami.

Sales itu intinya apa?
Kita tidak boleh ada beban ingin menjual. Kalau Anda punya beban harus
menjual, berarti Anda akan menemui masalah. Sewaktu ditolak, sudah ciut
duluan. Malu kita kan? Siapa yang mau dilahirkan jadi Sales? Semua
orang bisa menjadi Sales, tetapi siapa yang mau? Saya pertama kali
ditolak malu juga, tetapi saya tetap belajar. Saya digaji untuk
menawarkan barang, konsumen mau atau tidak mau, bukan urusan saya. Saya
memang menawarkan, sewaktu dia bilang tidak, saya mencari yang lain.

Ada kiat khusus sebagai seorang Sales pulpen?
Biasanya dulu, secara tradisional orang masuk ke toko mengucapkan salam
dan memperkenalkan diri, kemudian menawarkan barang. Tapi kebanyakan
ditolak. Kemudian saya dapat ide, kepada pemilik toko saya katakan,
”Saya dari produk ini, tugas saya mau kontrol. Ada barang saya yang
rusak tidak? Kalau ada, mau saya tukar.” Pemilik toko akan kaget dan
bertanya, “Yang mana produknya?” Ketika dilihat ternyata produk saya
tidak ada, langsung saya tunjukkan, “Produk saya seperti ini.” Ini cara
halus kan?

Salesmanship ada opening-nya, ada cara berbicaranya, lalu ada closing-nya.
Nah, pembukaannya harus bagus dulu. Kalau si pemilik toko bertanya,
“Kamu jualan?”, saya akan menjawab, “Oh, tidak. Saya mau kontrol saja.”
Namun, begitu ada kesempatan seperti tadi, saya langsung menawarkan
barang. Yang penting, image awal kita sudah baik. Tidak perlu
memaksa dia membeli barang kita. Kalau laku, dia akan mencari sendiri.
Saya paling tidak bisa memaksa orang. Kasihan juga dong kalau
tidak laku. Terutama lagi dia sudah mencoba produk kita. Kalau sudah
beli, saya sudah puas. Itu yang saya tekankan ke anak buah: “jangan
memaksa”. Rezeki dari Atas, yang penting kita usaha. Selain itu, saya
selalu berpikir bagaimana cara menjual pulpen ini.

Setelah itu baru menjalankan usaha sendiri?
Saya bikin pabrik pulpen sendiri. Paling tidak dari pengalaman saya sudah mendapat pelajaran.

Apa pertimbangan Anda bikin pabrik pulpen sendiri?
Saya menggeluti industri ini dari awal, setidaknya saya bisa tahu
situasi pasar. Kalau harus mencari produk lain, mesti belajar lagi.
Sedangkan di pulpen, saya belajar di perusahaan orang sudah cukup lama.
Delapan tahun di Bic, setahun di Lincoln, kemudian 10 tahun di
Standard.

Kapan Anda membangun pabrik?
Pertamanya belum ada pabrik. Jadi saat mengundurkan diri dari perusahaan itu, saya membuka usaha trading
dulu. Beli barang dari luar negeri, lalu saya beri merek sendiri.
Kemudian saya berpikir, daripada membeli, kenapa tidak bikin sendiri.
Kalau membuat sendiri, cost-nya bisa lebih murah. Jadi saya
coba tawar ke luar negeri, apakah mesin pencetaknya bisa saya beli. Ini
dimulai tahun 1998, saat itu sedang krisis moneter. Saya resign
dari kantor lama bulan April, bulan berikutnya krisis. Agak setengah
mati juga memulainya, tetapi saya bersyukur Yang Di Atas masih
mempercayai saya. Secara akal sehat waktu itu sangat berat, toko-toko
pada buka-tutup. Sementara demonstrasi terus-menerus. Kreativitas di
dunia bisnis tidak ada. Kondisinya sangat parah.

Anda punya partner membangun usaha ini?
Saya berdua dengan teman saya. Saya sebagai marketing director, teman saya sebagai factory director.
Dia juga mempunyai visi yang sama dengan saya, tidak mau kerja terus
sama orang sementara umur bertambah. Saya kenalnya sewaktu bersama-sama
kerja di Standard. Kami berdua bisa saling mengisi.

Kapan pabrik Anda mulai operasi?
Tahun 2001. Persiapan dilakukan sejak 1998.

Bisa diceritakan perkembangannya? Omzetnya berapa?
Soal omzet agak rahasia. Kami mengeluarkan dua produk. Pertama, yang
reguler, untuk menulis sehari-hari. Kedua, produk untuk promosi. Jadi
total produksi kami sekitar 2 juta batang per bulan.

Untuk pengembangan usaha, apa saja yang sudah dilakukan?
Saya pelan-pelan mesti tambah produk dalam hal jenis barangnya. Tetapi, satu-persatu karena keterbatasan modal. Kalau dahulu sih
pinjam sama bank begitu mudahnya. Tidak pinjam malah ditawarkan.
Sekarang tidak? Banknya harus hati-hati. Tetapi, dengan begini kita
harus banyak belajar. Saya apa adanya. Kalau Tuhan kasih saya begini,
ya sudah. Kalau kita tambah banyak, berarti dipercaya lebih banyak dan
musti hati-hati juga. Apa yang mampu saya kerjakan, akan dikerjakan.
Saya memakai ilmu air. Kalau mentok di kiri, kita ke kanan.

Lalu apa ambisi Anda berikutnya?
Menikmati hidup ini. Mengalir saja. Saya pun menikmati apa yang saya kerjakan. Dulu sewaktu menjadi marketing director
hanya memikirkan pemasaran saja. Sekarang jadi pengusaha, situasi
keamanan mesti dipikirkan. Mau invest, kan investasinya besar.
Sementara di satu sisi, dapat benefitnya ribuan rupiah. Belum lagi
masalah currency-nya, kalau dolar naik, belum tentu kita bisa
naikkan harga juga. Saingannya banyak. Kalau kita naikkan harga, bisa
celaka. Jadi kita lebih hati-hati dengan kekuatan yang ada saja.

Berapa jumlah karyawan pabrik Anda?
Semuanya 120 orang. Sebenarnya jumlah keseluruhan lebih banyak karena untuk assembling produk, saya menggunakan ibu-ibu rumah tangga untuk mengerjakannya.

Bagaimana persaingan di industri ini?
Sangat ketat karena pulpen selalu dipakai orang. Dari lahir hingga Anda
meninggal nanti, pulpen tetap dipakai orang. Surat lahir perlu tanda
tangan, juga surat kematian. Meskipun sekarang sudah computerized,
tetap saja manusia butuh pulpen.

Berapa sih pemain di bisnis ini?
Untuk produk lokal pabriknya ada lima, belum yang dari Jepang. Produk
Indonesia ini letaknya di tengah-tengah. Di bawahnya sudah menunggu
produk dari China. Murah-murah harganya, dan segmen mereka kelas
menengah-bawah. Di atasnya ada Jepang. Jadi kita cari niche-nya.

Apa strategi Anda menghadapi para pesaing?
Saya lebih aktif saja dalam memasarkan.

Berapa market share produk Anda?
Masih kecil. Sekitar 10 persenanlah. Itu dari quantity-nya.

Distribusi produk Anda kemana saja?
Saya lebih fokus di Jawa. Kalau keluar pulau terlalu jauh dan cost-nya
tinggi. Untuk Indonesia Timur, saya ambil agen di Surabaya. Kota itu
pendistribusiannya kan ke sana. Di Jawa Tengah saya pakai grosir-grosir
yang besar. Untuk Sumatera baru ada di Medan.

Apa saja tantangan dalam menggarap produk Anda?
Tantangan sekarang adalah dari segi persaingan yang sangat ketat.
Sebenarnya kalau saya belajar dari pengusaha di Vietnam atau China,
mereka di-support
oleh pemerintahnya. Ini saya tanya dari yang punya pabrik di Vietnam,
pabriknya sangat besar. Padahal dulu pabriknya kumuh. Lalu, oleh
pemerintahnya disuruh pindah. Dia dapat keringanan yang
seringan-ringannya. Kalau Anda lihat pabrik di China, besar-besar
semua. Kami tidak ada support dari pemerintah.

Bagaimana cara Anda mengatasinya?
Saya jual ide dan desain. Kalau orang melihat pulpen promosi ini, apa
yang dia lihat? Tentu lihat logonya. Kalau saya menawarkan pulpen,
puluhan ribu macam jenisnya. Saya musti cari celah. Oleh karena itu,
saya jual ide karena yang pertama kali dilihat pada pulpen itu adalah brand-nya. Bukan pulpennya. Saya mesti bisa menonjolkan produk sendiri. Saya mencari apa yang bisa membuat orang tertarik. []

* Artikel wawancara ini dimuat kembali atas izin tertulis dari Majalah MARKETING.

 

Subuh Yang Indah Bersamamu, Ya Rasulallah

Tuesday, March 21st, 2006

 

Dini hari di Madinah Al-Munawwarah. Aku saksikan sahabat-sahabat
berkumpul di masjidmu. Angin sahara membekukan kulitku. Gigiku
gemeretak, kakiku berguncang.

Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka. Dan kau datang, ya Rasulallah.
Kami pandang dikau. “Assalamu ‘alaika ayyuhan nabi warahmatullahi
wabarakatuh,” kudengar salam disampaikan bersahut-sahutan. Kau
tersenyum, ya Rasulallah. Wajahmu bersinar. Angin sahara berubah
hangat. Cahayamu memasuki seluruh daging dan jiwaku. Dini hari Madinah
berubah menjadi pagi yang indah. Kudengar kau bersabda, “Adakah air
pada kalian?”

Cepat-cepat kutengok gharibah-ku. Kulihat para sahabat yang lain
sibuk memeriksa kantong mereka, “Tak ada setitik air pun, ya
Rasulallah.” Kusesali diriku, mengapa tidak kucari air yang cukup
sebelum tiba di masjidmu. Beruntung benar sekiranya kubasahi wajah dan
tanganmu dengan percikan air dari kantung airku.

Kudengar suaramu yang indah, “Bawakan padaku wadah yang masih
basah.” Aku ingin loncat mempersembahkan gharibah airku tapi ratusan
sahabatmu berdesakan mendekatimu. Kau ambil satu gharibah air yang
kosong. Kau celupkan jari jemarimu yang mulia. Subhanallah, kulihat air
mengalir dari sela-sela jemarimu. Kami berdesakan, berebutan berwudu
dari pancuran sucimu. Betapa sejuk air itu ya Rasulallah. Betapa harum
air itu ya Nabiyallah. Betapa lezat air itu, ya Habiballah. Kulihat
Abdullah bin Mas’ud pun mereguk sepuas-puasnya.

Qad qâmatish shalâh, qad qâmatish shalah….

Alangkah bahagianya aku bisa salat di belakangmu, ya Sayyidal Anâm.
Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu. Melimpah, memenuhi jantung dan
seluruh pembuluh darahku.

Usai salat subuh, kau pandangi kami, masih dengan senyum yang indah
itu. Cahaya wajahmu, ya Rasulallah, tak mungkin aku lupakan. Ingin
kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu. Ingin kujatuhkan
sebutir pribadiku pada sahara tak terhingga pribadimu.

Kudengar kau berkata, “Menurut kalian, siapakah mahluk yang paling menakjubkan imannya?”

Kami jawab serempak, “Malaikat, ya Rasulallah.”

“Bagaimana mereka tak beriman, padahal mereka berada di samping Tuhan mereka?” jawabmu.

“Kalau begitu para nabi, ya Rasulallah.”

“Bagaimana mereka tak beriman, bukankah wahyu turun kepada mereka?”

“Kalau begitu kami, sahabat-sahabatmu, ya Rasulallah.”

“Bagaimana kalian tak beriman padaku padahal aku berada di
tengah-tengah kalian? Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman? Mereka
menyaksikan apa yang mereka saksikan.” Aku tahu, ya Rasulallah, kami
telah saksikan mukjizatmu. Kulihat wajahmu yang bersinar, kulihat air
telah mengalir dari sela jemarimu, bagaimana mungkin kami tak beriman
kepadamu. Kalau begitu siapa ya Rasulallah, orang yang kau sebut paling
menakjubkan imannya?

Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kami termangu. Ah,
gerangan siapa mereka itu? Siapa yang kaupuji itu, ya Rasulallah?
Kutahan napasku, kucurahkan perhatianku. Dan bibirmu yang mulia mulai
bergerak, “Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang
datang sesudahku. Yang beriman kepadaku, padahal mereka tak pernah
melihat dan berjumpa denganku. Yang paling menakjubkan imannya adalah
orang yang datang setelah aku tiada. Yang membenarkan aku padahal
mereka tak pernah melihatku. Mereka adalah saudara-saudaraku.”

Kami terkejut. “Ya Rasulallah, bukankah kami saudaramu juga?”

Kau menjawab, “Benar, kalian adalah para sahabatku. Adapun saudaraku
adalah mereka yang hidup setelah aku. Yang beriman kepadaku padahal
mereka tak pernah melihatku. Merekalah yang beriman kepada yang gaib,
yang menunaikan salat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan
kepada mereka…(QS. Al-Baqarah; 3)”

Kau diam sejenak ya Rasulallah. Langit Madinah bening, bumi Madinah
hening. Kudengar kau berkata, “Alangkah rindunya aku berjumpa dengan
saudara-saudaraku. Alangkah beruntungnya bila aku dapat bertemu dengan
saudara-saudaraku.”

Suaramu parau dan butiran air mata tergenang di sudut matamu. Kau
ingin berjumpa dengan mereka, ya Rasulallah. Kau rindukan mereka, ya
Nabiyallah. Kau dambakan mereka, ya Habiballah….

Wahai Rasulullah, kau ingin bertemu dengan mereka yang tak pernah
dijumpaimu, mereka yang bibirnya selalu bergetar menggumamkan shalawat
untukmu. Kau ingin datang memeluk mereka, memuaskan kerinduanmu. Kau
akan datang kepada mereka yang mengunjungimu dengan shalawat. Masih
kuingat sabdamu, “Barangsiapa yang datang kepadaku, aku akan memberinya
syafaat di hari kiamat.”

Yâ wajîhan ‘indallâh, isyfa’lanâ ‘indallâh. Wahai yang mulia di sisi Allah, berikanlah syafaat kepada kami di sisi Allah…

diambil dari sini

rusak lagi….rusak lagi…

Tuesday, March 21st, 2006

dasar mobil tua…

kemaren…rusak kopling..master dan lain-lain, cylinder head, blok..dll dah diganti… eeeehh… dyna sembuh… gantian l300 :(

ini nih biang keladinya… dyna barusan..

Master711d
seal-nya rusak…. 25ribu…. uhuk…uhukk… plus rantai motor putus.. 40ribu…

-PenjahatKurangKerjaanPostingGinian-

www.aptogaz.com

Monday, March 20th, 2006

humm..sekedar pengumuman buat temen-temen semua.

sekarang aptogaz dah ada websitenya,,,,

www.aptogaz.com

baru selembar kok, sistemnya "asal ada aja dulu" hhehehe…. jadi ya, masih gitu2 aja. insya allah bulan depan minimal edisi yang layak tonton bisa diupdate. (yang penting proyek2nya aja jalan dulu)

mohon doanya semoga aptogaz bisa semakin besar di indonesia. target ku minimal dalam 10 tahun kedepan. bisa jadi nomer 2 di indonesia. :)

2 pesaing utama aptogaz saat ini : 1. grup-nya sadikun
                                                                    2. jayagas

ahh..semangat anak muda!!!

aneh

Sunday, March 12th, 2006

 aneh ga sih? barusan dapet imel dari seseorang, minus text cuma ada file jpg bertuliskan ini :

Y_2

yeah right..?? tau aja gw lagi  patah hati.. :P, my question would be… how??

way of mood

Friday, March 10th, 2006

semingguan ini, lagi seneng ama lagu-lagu ini :)

=====================================================================================
Sampai Nanti - LEtto

kalau kau pernah takut mati….sama
kalau kau pernah patah hati…aku juga iya..

dan seringkali sial tak pernah pergi tanpa permisi kepadamu
suasana hati…tak perduli…

kalau kau kejar mimpimu…slalu
kalau kau ingin berhenti..ingat tuk..mulai lagi..

tetap semangat..dan teguhkan hati,,disetiap hari..
sampai nanti…sampai nanti…

kadang memang cinta yang terbagi
seringkali mimpi tak terpenuhi

tetap semangat..dan teguhkan hati..disetiap hari
sampai nanti…
tetap melangkah,,dan keraskan hati..disetiap hari..
sampai nanti…sampai nanti

=====================================================================================

Kenangan Terindah - Samsons

aku yang lemah tanpamu
aku yang rentan karena…cinta yang tlah hilang darimu
yang mampu menyanjungku

selama mata terbuka, sampai jantung tak bergetar
selama itupun aku mampu tuk mengenangmu

darimu kutemukan hidupku
bagiku kaulah cinta sejati……

(*)
bila..yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu
kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku

namun tak kan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupku
yang tlah terukir abadi, sebagai kenangan yang terindah…

back to (*)

=====================================================================================

NAluri Lelaki
by samsons

aku adalah lelaki, yang tak pernah lelah mencari wanita
aku adalah lelaki, yang selalu gundah menunggu wanita..aku..oh..oh…oh..

aku adalah lelaki, yang pantang menyerah memikat wanita
aku adalah lelaki, yang selalu ingin dibuai wanita..aku…

(*)
tolong dekati aku…tolong hampiri aku….tolong jamahi aku..
agar aku bijaksana
agar aku bahagia
agar aku merasakan cinta..ooh..

kurindu sebagai lelaki..
membuatku menginginkan berjuta wanita disisiku

kurindu sebagai lelaki..
membuatku merindukan pujaan dari wanita…

aku adalah lelaki, yang panyang menyerah memikat wanita.
aku adalah lelaki, yang selalu ingin dibuai wanita..aku..

back to (*)

=====================================================================================

:)

Friday, March 10th, 2006

kerja itu untuk apa?

Saturday, March 4th, 2006

seneng deh…. malem ini ngumpul di kampus…

anak-anak yang dateng sekitar 25 orang-an :), waaahhh… "reuni" dadakan M’99.

Friday, March 3rd, 2006

oww..btw, here some of the news about mygas :)

========================================================================================
Kebijakan Dirjen Migas Tidak Berpihak Ke UKM
Keliru, Pertamina Beri Pasokan Ke MyGas

 

Kamis, (27-01-’05)
JAKARTA (Suara Karya): DPR menilai kebijakan Pertamina memberi pasokan
gas ke pelaku pasar baru di bisnis elpiji seperti MyGas dianggap
sebagai kebijakan yang keliru. Namun, Pertamina tetap yakin kebijakan
itu masih menguntungkan.
 
Anggota Komisi VIII DPR-RI, Airlangga Hartarto, kepada wartawan di
sela-sela rapat dengan Pertamina di Gedung DPR/ MPR, Senayan, Jakarta,
Rabu (26/1/2005) mengatakan, seharusnya, sebagai pelaku pasar baru,
MyGas mestinya mencukup sendiri kebutuhan gasnya dan tidak "menyusu"
dari Pertamina.
 
"Pertamina memberi pasokan gas ke MyGas sebagai kebijakan yang keliru
dan harus dikaji ulang. Sama saja dengan menyusui anak macan seperti
halnya Petronas yang belajar di Pertamina yang sekarang justru jadi
kompetitor," kata Airlangga.
 
MyGas adalah perusahaan gas lokal yang mulai beroperasi sejak akhir
tahun 2004 lalu dengan pangsa pasar mayoritas di Pulau Jawa dengan
menyerap sekitar 60 ton per bulan. Airlangga menilai kebijakan
Pertamina menjual gas ke MyGas nantinya justru memperbesar kompetitor
Pertamina di masa depan.
 
"MyGas mestinya impor sendiri, karena tujuan pemain baru adalah
menambah pasokan baru. Tapi justru lambat laun pasar Pertamina
berkurang," katanya. Ia mencontohkan, pasar pelumas yang saat ini
berkurang, padahal dulunya Pertamina adalah raja di pasar ini. Selain
itu juga dampaknya kepada agen pengecer yang memasarkan produk
Pertamina yang juga merupakan UKM, lambat laun akan mati. "Memang
kebijakan Dirjen Migas tidak berpihak kepada UKM," sesalnya.
 
Dijelaskan, Pertamina saat ini mengimpor 20 persen gas dari jumlah
pasokannya sebesar 1,2 juta metrik ton dengan harga impor 390 dolar AS
per metrik ton. Sementara untuk harga produksi gas Pertamina dalam
negeri 280 dolar AS per metrik ton. Sedangkan MyGas beli di bawah 390
dolar AS per metrik ton, di mana komponen impor tidak ditambah.
 
Menurutnya di dalam negeri potensi pasar masih 3 juta matrik ton. MyGas
dinilai Airlangga hanya membeli elpiji dari Pertamina dengan
memanfaatkan fasilitas Pertamina sehingga tidak ada nilai tambah dengan
masuknya dia ke pasar-pasar gemuk yakni di Pulau jawa dimana 80 persen
mengkonsumsi gas. "Maka kebijakan harganya harus ditinjau ulang,"
ujarnya.
 
Airlangga menambahkan, Pertamina mengaku mendapat untung dengan menjual
ke MyGas yakni Rp 3.889 per kilonya, sedangkan ke agen Rp 3714 per
kilo, atau untung Rp 175 per kilo. "Padahal mestinya bisa lebih.
Keuntungan Pertamina ini cuma jangka pendek marjinnya karena untuk
jangka panjang market share Pertamina akan mengecil," ujarnya.
Barang Ekonomi
 
Saat dikonfimasi mengenai masalah ini, Direktur Pemasaran dan Niaga
Pertamina, Ari Seoemarno, mengatakan, penjualan gas ke MyGas memberi
marjin keuntungan yang tinggi.
 
"Kalau dulu dengan Blue Gas kita memang rugi. Di dalam gas kita tidak
pernah untung sejak 1996," tukas Ari, sambil menambahkan, dengan status
Pertamina sebagai persero dan memiliki target keuntungan, maka harus
berupaya untuk memenuhinya.
 
"Gas adalah barang ekonomi. Pertamina jangan diminta berkorban terus.
Dengan nilai keekonomian lebih baik agen-agen sekarang merger," ujarnya
 
Pernyataan prihatin juga sebelumnya pernah diutarakan oleh Masyarakat
Energi dan Mineral Indonesia (MEMI), di mana kompetisi semu yang
terjadi akibat masih mengandalkan pasokan dari Pertamina, ke depan bisa
mematikan brand nasional (si Tabung Biru) itu sendiri.
 
Direktur Eksekutif MEMI, A. Supriyatna, mengatakan, kebijakan Pertamina
untuk memberikan pasokannya pada pemain baru hanya akan membesarkan
pemain baru tersebut yang nantinya bisa menyusahkan Pertamina sendiri
disamping lambat laun menghancurkan pemain lama.
 
"Bila pemain baru sudah menguasai pasar, maka mereka akan menjadi
pesaing Pertamina sendiri. Jadi kebijakan itu sama saja dengan bunuh
diri," katanya.
 
Menurut Supriyatna, meski harga elpiji yang ditawarkan Pertamina lebih
tinggi, tapi belum sepenuhnya menguntungkan karena harga tersebut
terdapat komponen impor elpiji sebesar 20 persen yang selama ini belum
bisa dipenuhi Pertamina. Jadi, dengan memberikan pasokan kepada pemain
baru, secara tidak langsung lebih menguntungkan pada pemain baru
sementara beban biaya impor masih ditanggung oleh Pertamina.
 
Hal serupa juga pernah diungkapkan oleh Pengamat Migas, Kurtubi. Ia
menganggap masuknya pemain baru saat ini belum menunjukkan kompetisi
yang sehat, karena dengan kondisi itu tentunya merupakan persaingan
semu. "Kalau pesaing hanya bermodal tabung dan merek semata, itu
namanya kompetisi bohong-bohongan alias semu," katanya.
 
Selayaknya, kata Kurtubi, masuknya pemain baru tersebut harus diikuti
dengan penambahan pasokan elpiji guna mengantisipasi permintaan
konsumen yang belum bisa dipenuhi oleh Pertamina.
 
"Jadi idealnya pemain baru harus mendatangkan gasnya sendiri, contohnya
dengan mengimpor dan bukan dengan mengambil pasokan elpiji yang ada di
Pertamina," katanya. (R-1)

=====================================================================================

balongan…

Friday, March 3rd, 2006

lagi mo ngomongin tentang kerjaan ah..

=====================================================================================
Kilang Balongan Berhenti Produksi
Akibat Salah Satu ”Catalyst Cooler” Rusak
         INDRAMAYU,
                (PR).-
         
Kilang Pertamina UPVI Balongan di Kabupaten Indramayu mulai Rabu (15/2) sekira pukul 00.00
         WIB, berhenti berproduksi. Seluruh kegiatan kilang berhenti total menyusul kerusakan di bagian RCC (Recidue Catalitic Cracking), unit mesin paling vital dari kilang modern tersebut.

               

                  
                   

                  

                  

                   

                  

               

TRUK membawa "Catalyst Cooler"
                    (CC) baru menuju unit RCC di Kilang Pertamina UPVI Balongan Kab. Indramayu, Rabu (15/2).
                    Untuk pemasangan CC baru itu, kilang terpaksa berhenti produksi secara total yang dimulai
                    Rabu (15/2) pukul 00.00 WIB. Pergantian CC akan selesai pada awal Maret dan kilang kembali
                    bisa memproduksi BBM normal 125.000 barel/hari.*
AGUNG
                    NUGROHO/"PR"

               

Kerusakan tepatnya terdapat pada Catalyst Cooler (CC), berbentuk tabung dengan diameter 1 meter lebih dan panjang mencapai 10 meter. CC merupakan tabung yang berfungsi untuk mendinginkan catalyst saat proses produksi BBM di RCC. Di unit RCC, ada empat  CC yang juga berfungsi sebagai penyangga. Dari keempat CC itu, salah satu di antaranya  mengalami kerusakan.

 

Sumber "PR" di Pertamina UPVI menyebutkan, kerusakan salah satu CC itu sebenarnya sudah berlangsung lama, yakni lebih dari 1 tahun. Namun, selama ini Pertamina merahasiakannya, karena memang tidak mengganggu kinerja kilang secara keseluruhan.

 

Kendati demikian, kerusakan membawa dampak pada produktivitas yang tidak maksimal.
                Sejak salah satu CC di unit RCC itu rusak, Kilang Balongan maksimal hanya mampu menggenjot produksi 80 sampai 85 persen. "CC hanya menurunkan produktivitas kilang antara 15 sampai 20 persen," tutur sumber tadi.

 

Dari total kapasitas produksi maksimal 125.000 barel/hari, selama setahun ini Kilang Balongan hanya mampu memproduksi maksimal 85.000 sampai 90.000 barel/hari. Akibat kerusakan itu, diam-diam kilang modern satu-satunya di dunia yang menggunakan teknologi RCC, mengalami kerugian mencapai triliunan rupiah.

Kahupmas Kilang Balongan, T. Indrajaya membenarkan berhentinya kilang karena ad aperbaikan pada salah satu unit yang rusak. Dijelaskan, perbaikan membutuhkan waktu antara 16 sampai 18 hari, dan Pertamina akan mengusahakan lebih cepat lagi. "Selama masa        perbaikan, kilang mengalami shut down (berhenti total). Kita menggenjot supaya perbaikan bisa sesingkat mungkin. Karenanya, perbaikan itu dilakukan selama 24 jam non-stop," ujar dia.

Cadangan aman

Lebih jauh, Indrajaya menuturkan, meski kilang berhenti berproduksi, cadangan BBM tetap aman. Pertamina sudah jauh-jauh hari mempersiapkan untuk menghadapi masa perbaikan tersebut. "Pasokan ke DKI Jakarta dan sebagian Jabar tetap terjamin. Baik BBM maupun gas, semua dalam jumlah yang sudah diamankan. Stok ada untuk memenuhi kebutuhan selama 20 hari.

Kalaupun ada kekurangan, mungkin untuk kebutuhan dua daerah itu akan dipasok lewat
                kilang lain," ujar dia.

Dijelaskan, Pertamina sudah lama merencanakan perbaikan di unit RCC. Bahkan untuk izin, sudah dilakukan sejak 2 bulan lalu. "Kita sudah izin sejak dua bulan lalu. Karenanya, persiapan dilakukan secara matang. Meski kilang berhenti produksi, BBM dan gas (LPG-red) tidak ada persoalan," tandas dia.


Ditambahkan, sesuai jadwalnya, setelah kilang mengalami shut down pada Rabu sekira pukul 00.00 WIB, diperkirakan akan kembali berproduksi pada awal Maret mendatang. Setelah star up (menghidupkan mesin awal), memasuki pertengahan Maret sudah bisa berproduksi secara maksimal 125.000 barel/hari.(A-93)***

====================================================================================



yupe..begitulah, dan mo tau apa akibatnya??? pertamina sekarang (terutama 2 minggu terakhir) mengutamakan pengisian lpg yang 12kg (yang buat masak dirumahan). sedangkan yang 50kg (yang tabungnya gede2) waahh.. terjadi shortage besar-besaran. akibatnya?? buat bogor sendiri saat ini gw menghadapi banyak permintaan untuk MyGas. waahh…sampe keteteran…bayangkan..dalam sehari, mygas bogor sampe harus amil barang 2kali ke BSD. waahh…opening stok 15tabung. ternyata penjualan hari itu sampe 55 tabung!!! phewww.. kerja keras..kerja kerasss..

contohnya kmarin…ahh.bener2 cape otak dan fisik, gw sama oka sampe harus turun tangan ke lapangan buat nganter gas2 itu.. D-max direlakan deh buat nganter… *hahahaha* berulang kali masuk restoran disangkain mo makan… begitu bilang "mo nganter gas pak"… tampang satpam2 itu langsung berubah gitu…hehehehe..

smalem begitu sampe rumah, langsung tepar…hari ini?? entahlah…mo menghilang dulu ahhh.. :P barusan online ma momo di YM, ngajakin ke bandung….aahhh….bandung…here i come!!! :) urusan kantor?? hihi.. biarin ah, paling ntar tu manajer2 resto pada nelpon ke gw… jadi….jadwal toh sudah dibuat, hari ini anak2 brangkat jam 6 pagi. gw dah briefing smalem…. pyuuuuu…. tinggal kontrol by phone ajah…

*yeaaa..dan bukan sekali-dua kali aja gw kayak gini*, pokonya klo otak dah ngebull… "liburan ahh" hihihihi…. beberapa tender piping juga dah masuk nih…insya allah bulan depan dikerjain…

haaaaa…kerja..kerja…kerja….

-PenjahatLagiGilaKerja-