Gelar Buat Ali bin Abi Thalib
Monday, April 17th, 2006
Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah menyatakan bahwa dirinya diibaratkan sebagai
kota ilmu, sementara Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya ilmu.
Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak
mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abi Thalib
cukup pandai sehingga ia mendapat julukan "gerbang ilmu" dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Berkumpullah sepuluh orang dari kaum
Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran
pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, "Mari
sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana
jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh
kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?"
"Setuju!" jawab mereka serentak.
"Tetapi
sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja", saran yang lain.
"Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali
nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah
orang yang cerdas."
"Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!" sahut yang lainnya.
Hari
yang telah ditentukan telah tiba. Orang pertama datang menemui Ali
lantas bertanya, "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
"Tentu saja lebih utama ilmu," jawab Ali tegas.
"Ilmu
adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan
Qarun, Fir’aun, Namrud dan lain-lainnya," Ali menerangkan.
Setelah
mendengan jawaban Ali yang demikian, orang itu kemudian mohon diri. Tak
lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan
pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
"Lebih utama ilmu dibanding harta," jawab Ali.
"Mengapa?"
"Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya."
Orang
kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Orang
ketiga pun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya.
"Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?"
Ali kemudian menjawab bahwa, "Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?"
"Mengapa bisa demikian tuan?" tanya orang itu penasaran.
"Sebab
orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh.
Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan
hormat kepadanya."
Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang
keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah
mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali pun kemudian
menjawab, "Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu."
"Apa yang menyebabkan demikian?" tanya orang itu mendesak.
"Karena
bila engkau pergunakan harta," jawab Ali, "jelas-jelas harta akan
semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan
semakin bertambah banyak."
Orang kelima kemudian datang setelah
kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan
orang ini, Ali pun menerangkan, "Jika pemilik harta ada yang
menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani."
Orang
keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap
saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah,
"Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah
dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu."
Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh
datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, "Pemilik ilmu
akan diberi syafa’at oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala di hari kiamat
nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak."
Kemudian
kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada
Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga setelah
mendengar setiap jawaban, ternyata alasan yang diberikan Ali selalu
berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya.
Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan
Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara
mereka.
Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, "Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?"
"Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu," jawab Ali.
"Kenapa begitu?" tanyanya lagi.
"Dalam waktu yang lama," kata Ali menerangkan, "harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi."
Orang
kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. "Seseorang yang banyak
harta", jawab Ali pada orang ini, "akan dijunjung tinggi hanya karena
hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual."
Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun
bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, "Harta akan membuatmu
tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu
sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan
tentram karenanya."
Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya
telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, "Andaikata
engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab
dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup."
Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah.
Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam di atas adalah benar adanya. Dan ali memang pantas
mendapat julukan "gerbang ilmu". Sedang mengenai diri Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi.
…..bisakah saya menjadi ali??
-PenjahatYangLagiMerenungDiKantor-
grabbed from here