Archive for September, 2006

Gadis Payung Hitam

Friday, September 22nd, 2006

Images_2

Gadis Payung Hitam  
Cerpen Sholihul Hadi

 

Widi
tak habis pikir ketika tiba-tiba seorang gadis telah berada di
hadapannya. Segelas es teh kandas separoh — kenikmatan di puncak
kemarau, hari yang panas. Persis di depan warung makan pasar Sakagiri
gadis itu hanya diam disertai tatapan mata memelas. Jarinya
mempermainkan tangkai payung hitam yang separoh menutup wajahnya.


"Lapar, Dik?"


Tak
keluar jawaban dari mulutnya kecuali tubuhnya molat-molet sambil
tangannya memutar-mutar gagang payung. Wajahnya kumal. Begitu pula kaos
yang membungkus tubuhnya, tipis kusam seperti saringan santan. Bola
matanya masih menatap ke arah Widi seakan penuh harap minta
diterjemahkan.


"Siapa namamu. Belum sarapan?"


Ia membalikkan wajahnya pertanda bukan itu yang dia mau.


"Mbah
Ewa tahu anak siapa itu?" katanya kepada pemilik waru
ng dijawab
gelengan kepala. Dua ribu perak untuk segelas es teh dan sepiring nasi
dilemparkan begitu saja ke atas meja. Tapi, mata itu, mata itu, seperti
ingin terus mengajaknya bercakap, berkabar tentang sesuatu yang dia
sendiri belum tahu.

 

Mungkinkah
ia anak pengemis kaki satu yang sering singgah di rumahnya minta
sebungkus nasi tiap akhir pekan, ataukah ia pelarian dari sebuah panti
asuhan. Mungkinkah ia bawa pesan penting untukku sedang orang lain yang
bergerombol di warung ini pun tak diperhatikan.


"Mencari
siapa?" Aku bermaksud mendekat tapi urung begitu wajahnya cepat-cepat
ditenggelamkan di balik payung hitam, seperti bekicot.


Kupandangi
gadis itu. Tubuhnya timbul tenggelam ditelan laju orang-orang pasar
mengejar uang. Dalam jarak dua meter aku bisa menyaksikan, dari sorot
matanya ia memang punya maksud tertentu, setidaknya kepadaku,
setidaknya bukan buat orang-orang itu.


Gadis
itu beranjak mendekat ke pohon waru. Astaga, kakinya tak beralas apapun
padahal trotoar ini cukup panas, padahal seorang peminta-minta paling
miskin pun mampu membeli sepasang sandal jepit tapi kenapa ia malah
membiarkan telapak kakinya pelan-pelan digoreng aspal. Dari balik
payung hitam samar-samar bertuliskan pesan sponsor obat pilek, matanya
seperti mengajakku untuk mengikuti langkahnya, seperti pula hendak
berkata mari cepatlah kemari.


Ia
bergerak lagi tapi belum mencapai lima langkah tubuhnya berbalik dan
tangannya secepat kilat memungut benda yang terjatuh dari balik payung
hitam, ah tidak, dari lehernya. Bukan, bukan, dari balik bajunya. Ah,
persetan. Tapi benar itu emas. Ya, kalung emas. Emas. Emas kuno.


"Dik.
Dik. Dik." Kupanggil ia tapi jalannya makin cepat zig-zag menembus
kerumunan. Kutoleh kiri kanan guna memastikan tak ada seorang pun tahu
itu. Kukejar ia dengan bayangan keuntungan berlipat.


Ya,
emas kuno. Persis. Aku sering mendengar kabar, juga sering melihat
langsung bahwa beberapa orang di kawasan Klaten kerap menemu benda
semacam itu, sebentuk harta karun yang mereka sebut emas budha.
Warnanya kuning agak kusam serupa emas muda. Harta karun karunia bumi
itu, konon, hanya diperoleh orang-orang tertentu. Itupun lewat
perantara mimpi, tepatnya bukan sembarang mimpi.


"Dik,
kemari, Dik." Brengsek. Langkahnya terlalu cepat. Aku pun terengah
dibuatnya. Sekali lagi kupastikan orang-orang pasar tak ada yang tahu
peristiwa ini ketika ia berbelok menuju tempat sepi di los belakang
yang kosong. Persetan bau anyir dari unggun timbun sampah itu. Huh,
orang-orang pasar yang jorok.


Gadis
kecil itu berhenti. Ia merapatkan tubuhnya ke tembok. Pikirku,
kebetulan tak ada seorang pun tahu. Kubayangkan segepok uang segera
berpindah ke kantong

Masalahnya tinggal menunggu waktu yang tepat
untuk merayu dia. Toh hanya seorang bocah paling-paling dengan beberapa
lembar rupiah saja ia serahkan perhiasan itu. Dan inilah saatnya.


"Kau
jual berapa, Dik? Sepuluh Ribu?" Kurogoh selembar uang dari kantong
celanaku. Tapi gadis kecil itu tak menjawab kecuali hanya selintas
menatap uang yang kuacungkan lalu menyembunyikan wajahnya di balik
payung hitam. Untuk beberapa saat aku ikut diam sambil sesekali menoleh
guna sekali lagi memastikan tak ada seorang pun tahu. Jantungku
berdegup terbayang rejeki nomplok di depan mata.


"Sepuluh ribu tak mau?"


Tak
ada jawaban kecuali tangannya bergerak memberi acungan dua jari.
Secepat itu pula aku menyimpulkan gadis itu bisu. Benar, bisu. Kasihan
kau anak malang, ah persetan.


"Dua puluh ribu?"


Kali ini ia menggeleng, payungnya ikut bergoyang.


"Lho, dua puluh ribu tidak mau lalu berapa? Dua puluh lembar uang seribuan mau?"


Ia
menggeleng lagi. Meski aku tak sekelas Anthony T Podesta, pelobi ulung
yang pernah dinobatkan majalah The Washingtonian sebagai salah satu
dari 50 pelobi ulung yang memiliki pengaruh kuat di Amerika Serikat 1),
namun yang kuhadapi hanya gadis kecil, apa susahnya, paling tidak aku
sudah punya bekal menjadi makelar.


Benar,
aku tak tahu dan tak perlu tahu siapa namanya. Mungkin Reni, mungkin
Evi, mungkin Ninuk. Tak soal, asalkan emas itu segera berpindah ke
tanganku sebelum keduluan yang lain. Kesempatan hanya sekali datang
habis itu hilang bersama angin.


"Lalu berapa?" Aku tak sabar sembari menahan geram. "Masak dua ratus ribu, buat apa?"


Ia
tersenyum sambil mengeluarkan kalung yang disembunyikan di balik
payungnya. Ada percikan cahaya kuning pantulan matahari siang, tapi
hanya sebentar karena ia cepat-cepat memasukkan benda itu ke balik
bajunya.


Baiklah,
aku berhitung sekarang. Masih ada uang Rp 250 ribu di dompet, separoh
gajiku hasil bertarung dengan malam. Jika saja emas itu berhasil kubeli
berarti ada keuntungan dua kali lipat. Juragan emas Liem Kim Hoek pasti
akan ringan tangan mengeluarkan Rp 500 ribu. Sama-sama kuning tapi ia
tahu benar mana emas sejarah mana emas mentah.


"Seratus Ribu?" Sekali lagi kucoba menawar. Lagi, ia geleng kepala. "Dasar keras kepala."


Payung
hitam makin rapat di wajahnya. Ia tahu aku baru saja mengumpat. Di atas
kepala, matahari siang 90 derajad. Panas makin menyengat. Kulihat di
wajahnya meleleh satu dua tetes keringat. Tapi aku telah habis
kesabaran, segala rayuan mautku mental. Buat apa terlalu capek
berpikir.


Akhirnya…


"Yah, dua ratus ribu, bawa kemari kalung itu." Kurogoh uang dengan perasaan ringan.


Ia
melangkah menuju ke arahku. Tangan kanannya meraih uang dari
genggamanku, tangan kirinya menyerahkan emas dan langsung kumasukkan
saku. Persis transaksi narkoba. Aman, tak seorang pun tahu kecuali
Tuhan. Sebelum pergi, gadis itu sekali lagi menatapku, sebentar
tersenyum, lalu hilang ditelan pasar. Aku pun bernyanyi sepanjang gang.
Ingin aku tertawa menyaksikan orang-orang pasar pontang-panting
mengejar uang sedangkan aku tak sampai setengah jam mendapatkannya
dengan mudah.


Di toko Liem siulku makin nyaring. Heaven isn’t too far away…2). Dengan kode khusus Liem merangkulku menuju ruang belakang.


"Berani berapa?" Aku langsung pasang harga.


"Yang model begini cuma Rp 450 ribu."


"Lima ratus."


"Ini aku sudah rugi belum lagi tambah ongkos melebur."


"Tambah sedikit."


"Pas."


"Ya sudah. Ambil."


Liem
meraih alat tes sebentuk botol kecil berisi cairan khusus yang  diikatkan di tali pinggangnya. Di atas meja kecil diteteskannya ujung
kalung itu. Liem berpaling ke arahku.


"Palsu," ujarnya ringan, "lain kali datang lagi kemari bawakan aku yang asli."


"Hah, palsu."


Tiba-tiba tubuhku terasa mengapung ringan. Kuning. Redup. Kuning. Gelap. Ketika bangun kucium aroma karbol rumah sakit.


***

Kantong Ban Serep

Tuesday, September 19th, 2006

1_1    Waktu ambil gambar ini, kebayang segarnya….. kebayang rasa teh-nya… apapun makanannya..minumnya….aer dingin!!!




2  Bentar lagi puasa, iklan dengan segmentasi waktu yang tepat… berbukalah dengan yang manis… gak nemu?? berbukalah sambil bayangin muka adi…. :)  *senyum manis mode-on*

3

ini dapet dari mobil yang diparkir di PP…. sembari diliatin satpam..






4






6




5

Bang SMS - Ria Amelia

Tuesday, September 19th, 2006

Images2
Images_1







Bang SMS siapa ini bang
Bang pesannya pake sayang sayang
Bang nampaknya dari pacar abang
Bang hati ini mulai tak tenang


Bang tolong jawab tanyaku ke Abang
Bang nanti HP ini ku buang
Bang ayo dong jujur saja abang
Bang, kalau masih sayang


Kalau Bersilat lidah, memang Abang rajanya
Tlah nyata Abang salah tetap abang berkilah


Orang salah kirimlah
Orang iseng-iseng lah
Orang salah kirimlah
Orang iseng-iseng lah


Mulai dari sekarang HP aku yang pegang


====================================================


Goyang Baaanng..!!!.. salah satu lagu dangdut berkualitas… Hidup Dangdut Indonesia….

salam Dangdut Forepah,

-Pemuda Dangdut Indonesia, Chapter Bogor-

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Wednesday, September 6th, 2006

Boy_girl_holding_hands_ka







Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,
dan punggung mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya,
Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.
Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok,
dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi
Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian
be rdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia
terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu
bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa
mendatang? …
Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata
setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan menangi s lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi
insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah
akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku
berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya
diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah
berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan
hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…" Ibu mengusap air
matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana
mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah
cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul
adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan
saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu
kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku
yang
membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan
sedikit
kaca ng yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas
tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun
itu,
adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di
lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu
di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku
berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor
tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak
bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab,
tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir
jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam
kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku
apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…"

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu.
Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,
"Saya melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
~ Tahun itu, ia berusia 20. Ak u 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan
rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang
pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka
pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…"
Ditenga h kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal
bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun,
mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku
tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan
menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen
pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik,
dan masuk rumah sakit. Suamiku dan
aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti
ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak
mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. "Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu,
berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga
karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ke tika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara
perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati
dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia
berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan
selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia
hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."

Tepuk ta ngan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan
dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"

To All who’s falling in love.. (For those who find their soulmate)

Wednesday, September 6th, 2006

Jatuh
cintalah dengan perasaan sedalam-dalamnya

karena kau
yakin dia mencintaimu

 
Jatuh
cintalah dengan perasaan bahagia
karena dia
adalah pasangan terakhirmu

 
Lepaskanlah
perasaan cintamu padanya
Hanya
untuknya seorang
Karena
“jatuh cinta lagi” adalah terlarang

 

Jagalah
cinta di antara kalian
Seperti
menjaga api unggun tetap membara
Cahayanya
menerangi malam yang sunyi
Panasnya
menghangatkan malam yang dingin

 

Semoga Tuhan
mengukuhkan hati kita
Menempuh
jalan teramat panjang
Dan api
tetap menyala hingga akhir hayat

===================================================

To all who’s
falling in love
Untuk mereka
yg belum, akan dan sedang jatuh cinta

 

Satu saat
kita jual mahal pada cinta
Tatkala kau
ragu perasaannya

 

Satu saat
kita harus melepaskan cinta
Tatkala dua
jalan tidak pernah bersatu

 

Satu saat
kita jangan jatuh cinta
Tatkala kau
ragu akan dirimu

 

Satu saat
kita perlu jatuh cinta
Tatkala
hidup tak berarti lagi bagimu

 

Jatuh
cintalah sebanyak mungkin
Sebanyak kau
mampu (menanggung akibatnya)

 

Jatuh
cintalah sedikit saja
Sejumlah kau
mampu beri

 

Jatuh
cintalah sekarang
Sebelum
jatuh cinta terlarang

 

Rasakanlah
cinta,
Perasaan
yang menggebu-gebu
Bahagia yang
tak terlupakan

 

Rasakanlah
cinta,
Air mata
yang mengalir,
Sakit hati yang
tak tertahankan

 

Jatuh
cintalah dengan bijaksana
Pilihlah
cinta dengan seksama
Mengharap
takdir ada di sana

broken eyeglass..

Monday, September 4th, 2006

humm…setelah tak berkacamata selama seminggu ini. akhirnya diriku menyerahhhh… :)

memaksakan diri juga buat beli barang yang satu ini….

Eyeglass1

lumayan ternyata… perhitunganku… klo beli di pasar senen, yang namanya kacamata lebih murah hampir 60% ! ….. :)

whoaaa…. aku cowo murahan (baca: pecinta barang2 murah)… hehehehe… :P