Gadis Payung Hitam
Cerpen Sholihul Hadi
Widi
tak habis pikir ketika tiba-tiba seorang gadis telah berada di
hadapannya. Segelas es teh kandas separoh — kenikmatan di puncak
kemarau, hari yang panas. Persis di depan warung makan pasar Sakagiri
gadis itu hanya diam disertai tatapan mata memelas. Jarinya
mempermainkan tangkai payung hitam yang separoh menutup wajahnya.
"Lapar, Dik?"
Tak
keluar jawaban dari mulutnya kecuali tubuhnya molat-molet sambil
tangannya memutar-mutar gagang payung. Wajahnya kumal. Begitu pula kaos
yang membungkus tubuhnya, tipis kusam seperti saringan santan. Bola
matanya masih menatap ke arah Widi seakan penuh harap minta
diterjemahkan.
"Siapa namamu. Belum sarapan?"
Ia membalikkan wajahnya pertanda bukan itu yang dia mau.
"Mbah
Ewa tahu anak siapa itu?" katanya kepada pemilik waru
ng dijawab
gelengan kepala. Dua ribu perak untuk segelas es teh dan sepiring nasi
dilemparkan begitu saja ke atas meja. Tapi, mata itu, mata itu, seperti
ingin terus mengajaknya bercakap, berkabar tentang sesuatu yang dia
sendiri belum tahu.
Mungkinkah
ia anak pengemis kaki satu yang sering singgah di rumahnya minta
sebungkus nasi tiap akhir pekan, ataukah ia pelarian dari sebuah panti
asuhan. Mungkinkah ia bawa pesan penting untukku sedang orang lain yang
bergerombol di warung ini pun tak diperhatikan.
"Mencari
siapa?" Aku bermaksud mendekat tapi urung begitu wajahnya cepat-cepat
ditenggelamkan di balik payung hitam, seperti bekicot.
Kupandangi
gadis itu. Tubuhnya timbul tenggelam ditelan laju orang-orang pasar
mengejar uang. Dalam jarak dua meter aku bisa menyaksikan, dari sorot
matanya ia memang punya maksud tertentu, setidaknya kepadaku,
setidaknya bukan buat orang-orang itu.
Gadis
itu beranjak mendekat ke pohon waru. Astaga, kakinya tak beralas apapun
padahal trotoar ini cukup panas, padahal seorang peminta-minta paling
miskin pun mampu membeli sepasang sandal jepit tapi kenapa ia malah
membiarkan telapak kakinya pelan-pelan digoreng aspal. Dari balik
payung hitam samar-samar bertuliskan pesan sponsor obat pilek, matanya
seperti mengajakku untuk mengikuti langkahnya, seperti pula hendak
berkata mari cepatlah kemari.
Ia
bergerak lagi tapi belum mencapai lima langkah tubuhnya berbalik dan
tangannya secepat kilat memungut benda yang terjatuh dari balik payung
hitam, ah tidak, dari lehernya. Bukan, bukan, dari balik bajunya. Ah,
persetan. Tapi benar itu emas. Ya, kalung emas. Emas. Emas kuno.
"Dik.
Dik. Dik." Kupanggil ia tapi jalannya makin cepat zig-zag menembus
kerumunan. Kutoleh kiri kanan guna memastikan tak ada seorang pun tahu
itu. Kukejar ia dengan bayangan keuntungan berlipat.
Ya,
emas kuno. Persis. Aku sering mendengar kabar, juga sering melihat
langsung bahwa beberapa orang di kawasan Klaten kerap menemu benda
semacam itu, sebentuk harta karun yang mereka sebut emas budha.
Warnanya kuning agak kusam serupa emas muda. Harta karun karunia bumi
itu, konon, hanya diperoleh orang-orang tertentu. Itupun lewat
perantara mimpi, tepatnya bukan sembarang mimpi.
"Dik,
kemari, Dik." Brengsek. Langkahnya terlalu cepat. Aku pun terengah
dibuatnya. Sekali lagi kupastikan orang-orang pasar tak ada yang tahu
peristiwa ini ketika ia berbelok menuju tempat sepi di los belakang
yang kosong. Persetan bau anyir dari unggun timbun sampah itu. Huh,
orang-orang pasar yang jorok.
Gadis
kecil itu berhenti. Ia merapatkan tubuhnya ke tembok. Pikirku,
kebetulan tak ada seorang pun tahu. Kubayangkan segepok uang segera
berpindah ke kantong
Masalahnya tinggal menunggu waktu yang tepat
untuk merayu dia. Toh hanya seorang bocah paling-paling dengan beberapa
lembar rupiah saja ia serahkan perhiasan itu. Dan inilah saatnya.
"Kau
jual berapa, Dik? Sepuluh Ribu?" Kurogoh selembar uang dari kantong
celanaku. Tapi gadis kecil itu tak menjawab kecuali hanya selintas
menatap uang yang kuacungkan lalu menyembunyikan wajahnya di balik
payung hitam. Untuk beberapa saat aku ikut diam sambil sesekali menoleh
guna sekali lagi memastikan tak ada seorang pun tahu. Jantungku
berdegup terbayang rejeki nomplok di depan mata.
"Sepuluh ribu tak mau?"
Tak
ada jawaban kecuali tangannya bergerak memberi acungan dua jari.
Secepat itu pula aku menyimpulkan gadis itu bisu. Benar, bisu. Kasihan
kau anak malang, ah persetan.
"Dua puluh ribu?"
Kali ini ia menggeleng, payungnya ikut bergoyang.
"Lho, dua puluh ribu tidak mau lalu berapa? Dua puluh lembar uang seribuan mau?"
Ia
menggeleng lagi. Meski aku tak sekelas Anthony T Podesta, pelobi ulung
yang pernah dinobatkan majalah The Washingtonian sebagai salah satu
dari 50 pelobi ulung yang memiliki pengaruh kuat di Amerika Serikat 1),
namun yang kuhadapi hanya gadis kecil, apa susahnya, paling tidak aku
sudah punya bekal menjadi makelar.
Benar,
aku tak tahu dan tak perlu tahu siapa namanya. Mungkin Reni, mungkin
Evi, mungkin Ninuk. Tak soal, asalkan emas itu segera berpindah ke
tanganku sebelum keduluan yang lain. Kesempatan hanya sekali datang
habis itu hilang bersama angin.
"Lalu berapa?" Aku tak sabar sembari menahan geram. "Masak dua ratus ribu, buat apa?"
Ia
tersenyum sambil mengeluarkan kalung yang disembunyikan di balik
payungnya. Ada percikan cahaya kuning pantulan matahari siang, tapi
hanya sebentar karena ia cepat-cepat memasukkan benda itu ke balik
bajunya.
Baiklah,
aku berhitung sekarang. Masih ada uang Rp 250 ribu di dompet, separoh
gajiku hasil bertarung dengan malam. Jika saja emas itu berhasil kubeli
berarti ada keuntungan dua kali lipat. Juragan emas Liem Kim Hoek pasti
akan ringan tangan mengeluarkan Rp 500 ribu. Sama-sama kuning tapi ia
tahu benar mana emas sejarah mana emas mentah.
"Seratus Ribu?" Sekali lagi kucoba menawar. Lagi, ia geleng kepala. "Dasar keras kepala."
Payung
hitam makin rapat di wajahnya. Ia tahu aku baru saja mengumpat. Di atas
kepala, matahari siang 90 derajad. Panas makin menyengat. Kulihat di
wajahnya meleleh satu dua tetes keringat. Tapi aku telah habis
kesabaran, segala rayuan mautku mental. Buat apa terlalu capek
berpikir.
Akhirnya…
"Yah, dua ratus ribu, bawa kemari kalung itu." Kurogoh uang dengan perasaan ringan.
Ia
melangkah menuju ke arahku. Tangan kanannya meraih uang dari
genggamanku, tangan kirinya menyerahkan emas dan langsung kumasukkan
saku. Persis transaksi narkoba. Aman, tak seorang pun tahu kecuali
Tuhan. Sebelum pergi, gadis itu sekali lagi menatapku, sebentar
tersenyum, lalu hilang ditelan pasar. Aku pun bernyanyi sepanjang gang.
Ingin aku tertawa menyaksikan orang-orang pasar pontang-panting
mengejar uang sedangkan aku tak sampai setengah jam mendapatkannya
dengan mudah.
Di toko Liem siulku makin nyaring. Heaven isn’t too far away…2). Dengan kode khusus Liem merangkulku menuju ruang belakang.
"Berani berapa?" Aku langsung pasang harga.
"Yang model begini cuma Rp 450 ribu."
"Lima ratus."
"Ini aku sudah rugi belum lagi tambah ongkos melebur."
"Tambah sedikit."
"Pas."
"Ya sudah. Ambil."
Liem
meraih alat tes sebentuk botol kecil berisi cairan khusus yang diikatkan di tali pinggangnya. Di atas meja kecil diteteskannya ujung
kalung itu. Liem berpaling ke arahku.
"Palsu," ujarnya ringan, "lain kali datang lagi kemari bawakan aku yang asli."
"Hah, palsu."
Tiba-tiba tubuhku terasa mengapung ringan. Kuning. Redup. Kuning. Gelap. Ketika bangun kucium aroma karbol rumah sakit.
***
This entry was posted
on Friday, September 22nd, 2006 at 12:21 am and is filed under Uncategorized.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
January 16th, 2009 at 9:04 am
nice….mau mengejutkan pembaca di akhir. Sayangnya gw udah bisa nebak. Ga tau yang lain. Keep up the good work.