Archive for March, 2008

Mas..aku mencintaimu..!!

Monday, March 10th, 2008



Kuterima lagi hadiah doa dari masku. Walau Mas Alwan memiliki
kekurangan, tetapi kelebihannya jauh lebih banyak. Dia setia, ganteng,
cerdas, bertanggung jawab, berjiwa pemimpin, jago diplomasi,
berkarisma, dll. Hmm, engkau memang tepat menjadi calonku.

Telah
kucalonkan engkau dalam daftar Da’wah Fardiyahku, agar menjadi seorang
ikhwan. Ikhwan yang akan turut mengokohkan barisan da’wah. Akhlak
dasarmu sudah baik, tinggal sedikit dipoles, maka Insya Allah engkau
akan menjadi jauh lebih ganteng dengan keikhwananmu ^ _ ^. Amiin.
Bangsa Arab dulu juga seperti itu kan Mas, mereka memiliki
akhlak-akhlak dasar yang baik; pemurah, menghormati tamu, setia pada
kabilahnya, pemberani, dan lain-lain. Hanya saja akhlak-akhlak baik
Bangsa Arab itu belum sempurna karena dilandasi keinginan untuk dipuji
dan fanatisme buta. Hingga diutuslah sang nabi akhir zaman yang
bersabda, "Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Aku
siapkan agenda Da’wah Fardiyahku untukmu ya. Dari evaluasiku, di tahun
pertama, engkau sedikit sulit dijinakkan (lho?!.memangnya?). Afwan ya
Mas, kalau istilahnya begitu. Karena kalau kata orang-orang, aku dan
engkau bagaikan manusia dari Timur dan dari Barat. Hal itu sering
membuat kita ada dalam kondisi perang dingin dan engkau sering
membuatku berlinang air mata. Perbedaan Timur dan Barat itu sungguh
kentara, tak ubahnya dua peradaban yang saling berbenturan. Karena
engkau suka berkiblat ke millah (cara hidup) dan fikrah (pemikiran)
Barat. Afwan, ketika itu pemahaman fiqh da’wahku masih kurang baik,
sehingga aku langsung main marah saja kalau melihatmu melakukan hal-hal
yang dilarang agama. Dan, nah ya!, aku juga masih ingat ketika aku
pertama kali hijrah dan berjilbab, engkau menyeletuk, "Waduh? kayak
orang padang pasir!"  Aku sedih mendengarnya, tapi biarlah! ini namanya
generasi ghuraba, Mas..

Tahun kedua, da’wahku mulai smooth ya.
Maklum, adikmu ini baru paham fiqh da’wah. Ternyata?., dalam berda’wah
kita harus lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, mengerti apa yang
harus dilakukan dan adil terhadap apa yang harus dilarang. Berda’wah
itu harus bertahap, karena pemahaman setiap manusia berbeda-beda. Dan
tentu saja, tugas kita hanyalah menyampaikan sedangkan hidayah itu dari
Allah saja. "Kamu tidak akan bisa memberi hidayah pada yang engkau cintai".
Tambahan lagi, kesabaran adalah yang utama. Karena tanpanya, kita akan
isti’jal (terburu-buru) inginkan hasil. Padahal Allah tidak menilai
hasil, Dia menilai proses. Maafkan aku, Mas! Aku akan mulai mencoba
memahami dirimu.

Aku termangu menerima hadiah doamu. Mmm..engkau masih ingat, tidak ya? Di minggu pagi yang cerah, aku duduk di
ruang tengah dan engkau keluar dari kamarmu, hendak mencuci mobil di
garasi. Tapi aku tertegun melihat penampilanmu. Wah?, ndak salah nih,
gumamku kala itu. "Mas, kok pake celana pendek, kan ndak boleh tuh?.."
Engkau senyum-senyum mendengar teguranku. "Hehehe, iya nih kalau
ketahuan sama anak rohis di kampusku, pasti aku juga dimarahi! hehehe,"
jawabmu sambil tetap ngeloyor pergi ke garasi. Aku jadi mengernyitkan
kening?. Hmm, sudah tahu tidak boleh, tapi kok masih dipakai juga yah
(?).

Di lain waktu, engkau kerap menggodaku, "Enaak nih Pizza
Hut!", ujarmu sambil mengunyah sepotong pizza yang engkau tahu aku
tidak menyukainya. "Itu kan ndak boleh, diboikot!, makan darah orang
Palestina lho, Mas?.",  jawabku. "Hehehe, biarin! nyam..nyam", katamu.
Tapi di lain waktu, ketika aku membaca Al Qur’an di keremangan malam,
tiba-tiba engkau bangun dari tidurmu dan berbaik hati menyalakan lampu,
menerangiku membaca kitab-Nya. Syukron! :)

Tahun ketiga, sudah ada
dialog antara kita. Dan kalau di evaluasi, engkau hari ini sudah jauh
berbeda dari 2 tahun yang lalu. Paling tidak, engkau tak lagi anti
Islam, sudah rajin shalat, mulai menyadari perjuangan muslim di
Palestina dan bertanya tentang Islam. " Dek!, kenapa sih anak rohis di
kampus itu, kecil-kecil dah pada nikah?" Aku sedikit terkejut dengan
pertanyaanmu. " Oh..itu karena begini dan begitu…" , jawabku. Di lain
waktu engkau bertanya lagi, " Dek, memangnya manfaat Shalat Dhuha itu,
apa?".  " Oh ". Itu karena begini dan begitu.. , jawabku. Engkau
mengangguk-anggukkan kepala. Dan yang membuatku bersyukur adalah ketika
engkau mendukung dan memberikan suaramu untuk partai Islam yang bersih
dan peduli. Aku hanya bisa mengucap hamdalah. (Duh! ya Rabbi..,
sakit..!).

Dan, aku masih termangu menerima hadiah doa darimu.
Sifatmu yang keras, membuat aku teringat akan Umar bin Khattab yang
juga keras, tapi lembut hatinya. Mungkin seperti itulah aku
mengibaratkanmu. Keras di luarnya saja, tapi sesungguhnya hatimu
lembut. Buktinya, engkau menangis kala mbak kita dalam proses ijab
qabul. Dan bukankah dulu Umar benci Islam? Apatah lagi engkau tidak
separah jahiliyahnya Umar, yang sampai mengubur hidup-hidup anak
perempuannya. Sungguh! aku yakin, engkau bisa berubah, sebagaimana
keyakinanku dalam mentarbiyah para mad’u di kampus, karena memang
fitrah manusia adalah Islam.

Hmm, dalam 3 tahun Da’wah Fardiyah,
engkau belum juga menjadi ikhwan, belum ‘mengaji’, belum berda’wah.
Tetapi aku tak akan putus asa, karena engkau masku!, karena aku sangat
merindukan mempunyai mas yang ikhwan!. Aku ingin kita sekeluarga
selamat di dunia dan di akhirat. Sekali lagi, aku tetap yakin, manusia
bisa berubah!

Hadiah doa darimu membuat aku ingin terus
berfikir.  Mas?, sekarang engkau sedang apa ya? Jangan sering pulang
malam, nanti sakit. Apakah sekarang engkau sudah menikah? Sudah punya
anak? Apakah.. dan apak..a. Aduuh! sakit!. Ya Rabbi!., sungguh dahsyat
sakitnya kematian kala kecelakaan itu. Kala ruh berpisah dengan jasad.
Dan Illahi Rabbi.., walau sang maut menjemput bertahun-tahun lalu,
tetapi sakitnya hingga detik ini masih kurasa!. Ya Allah, aku masih
dapat mengingat saat ibu, ayah, mbak dan masku menangisi aku yang
terbujur kaku, mengantarku ke tempat peristirahatan " Ya Rabbi ", kala
itu langit mendung, bunga-bunga ditaburkan di atas tempatku. Sungguh
kehidupan di dunia seperti sehari saja., atau kurang dari itu dan
sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan akhirat yang kekal. Akankah aku
dapat bertemu lagi dengan keluargaku.

(Merenung) Ya Rabbi!,
hingga kini, aku tidak tahu apakah masku sudah menjadi seorang ikhwan?,
yang menjadi bagian dari barisan da’wah untuk meninggikan kalimah-Mu.
Apakah kami dapat bertemu dalam naungan-Mu? Kurindu persaudaraan abadi,
yang bukan hanya karena ikatan darah, tetapi akidah. Ibu.., ayah.,
mbak, mas. Aku mencintai kalian semua. Dan untukmu Mas Alwan, "Mas,
aku mencintaimu karena Allah!".  Semoga kita dipertemukan kembali dalam
naungan-Nya. Jazakallah Mas, atas hadiah-hadiah doamu selama ini, doa
yang besarnya sebesar gunung, yang engkau kirimkan untukku setiap hari,
di setiap shalat malammu. Aku mendengarnya.

Ps. saya bukan abang-abang!!!
quoted from here

Aku ingin menikah Bang!!!

Sunday, March 2nd, 2008

   

      

Aku ingin menikah bang!!!

Itu awal dari suratnya…membuat jantungku berdekap kencang, lalu ku baca surat itu perlahan.


Aku ingin menikah bang!!!
Bukan karena aku ingin melakukan hal yang selama ini dilarang oleh agama, tapi aku ingin menikmati pernikahan itu sendiri.


Aku tau tak mudah untuk menjalani sebuah pernikahan, suatu
ikatan erat yang tak bisa dimainkan layaknya orang yang berpacaran.
Tapi aku inginkan itu, aku ingin menikmati susahnya menjadi seorang
istri, mempunyai anak dan mengurus mereka..aku suka akan hal itu dan
aku akan menganggapnya sebagai suatu ibadah karena ada tantangan yang
harus aku lalui, disamping menjalankan roda rumah tangga juga berkarir
untuk diriku sendiri.


Bukankah kau tau, dari dulu aku ingin sekali menikah muda. Kau
mau tau alasannya? Karena aku suka melakukan hal itu, aku merasa bangga
menjadi seorang istri sekaligus menyandang status ibu bagi anak-anakku,
melihat perkembangan mereka dari kecil hingga dewasa menaklukkan rasa
penatku setelah sehari bekerja. Mengurus suami yang sangat aku hormati
juga aku cintai, memberikannya limpahan cinta dan ingin selalu tampil
cantik didepannya. Itulah yang ingin aku lakukakan.


Aku tau ini gak gampang untukmu, aku tau banyak hal yang engkau
fikirkan. Tapi terkadang hal itu hanya sebuah keinginan, dimana manusia
tak bisa lepas dari rasa puas. Saat keinginan engkau telah tercapai,
engkau pasti menginginkan hal yang lain lagi.


Kau tau sayang??menikah itu ibadah, dengan menikah kau telah
menyempurnakan ibadahmu juga agamamu. Menikah bukanlah hal yang paling
manakutkan, setidaknya menurut versiku, karena semua tak akan berbeda,
kecuali hidup bersama dengan kewajiban masing-masing.


Kau masih bisa beraktivitas seperti biasa, yang berbeda hanyalah kurangnya waktu luangmu
diluar rumah karena ada seorang istri yang menantimu dirumah, menyediakanmu segala hal yang engkau perlukan.


Aku bisa membayangkan betapa bahagianya dengan keluarga seperti
itu. Tak ada paksaan juga tekanan, karena semua didasari dengan rasa
sayang juga kebersamaan.


Keinginan ini sudah kupendam sejak lama, hanya saja aku juga gak
bisa sembarangan memilih calon suami yang akan mendampingiku seumur
hidupku.


Satu hal yang perlu kau tau, selama ini aku juga terjebak dalam
dua keadaan yang sangat mengganggu fikiranku, menikah atau berkarir.


Karena jika aku memilih untuk menikah, maka karirku tak seperti
yang aku inginkan, sementara aku juga ingin sukses dalam berkarir,
kebanyakan perusahaan menginginkan karyawan yang belum menikah.


Tapi hasrat ku ini sangat kuat, banyak pro dan kontra akan
keinginanku ini, ada yang memberiku nasehat untuk menyegerakan
pernikahan, ada juga yang menyuruh kami untuk berkarir karena usia kami
yang terbilang muda, hanya saja menurutku usiaku bukan muda lagi,
walaupun masih banyak yang lebih tua usianya dan belum menikah, tapi
aku mengkhawatirkan usia ini. Aku juga mengkhawatirkan kesalahan yang
akan kulakukan dalam menjalin sebuah hubungan yang biasa disebut
pacaran.


Menurutku 1 tahun cukup untuk mengenal karakter masing-masing, dan aku rasa aku telah cukup mengenalmu. Apa fikiranku ini salah?


Mungkin engkau tlah banyak menyusun rencana untuk masa depan
kita, aku dukung semua itu, tapi aku tak mau terlalu berencana bang,
karena terlalu sakit klo semua itu tak seperti yang kita harapkan,
bukankah kita lebih mantap menyusun rencana saat kita sudah menikah?
Menyatukan untuk satu tujuan, apa apa saja yang ingin kita raih dan
kita miliki.


mungkin banyak hal yang terfikir dikepalamu, seperti memiliki
sebuah rumah, kendaraan juga yang lainnya, tapi tidakkah kau tau itu
pasti bisa kita dapatkan dan aku yakin kita bisa mewujudkannya
bersama-sama.


Mungkin engkau adalah penganut faham yang mengatakan belum siap
menikah apabila belum mapan dari segi materil, engkau ingin segalanya
perfect saat engkau ingin melanjutkan sebuah hubungan ke jenjang
pernikahan. Itu wajar, aku tau engkau melakukan semua itu karena kau
ingin membahagiakan aku. Semua itu memang sangat kita butuhkan, apalagi
di era globalisasi seperti ini, dimana persaingan semakin ketat, juga
mahalnya biaya hidup baik primer maupun sekunder.


Tapi sampai kapan kau ingim mewujudkan semua itu?semakin lama
waktu berjalan, semakin banyak yang akan difikirkan, dan semakin mahal
pula biaya hidup yang harus dikeluarkan..tidakkah kau mengerti akan hal
itu.


Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa yang akan
datang, tapi jika kita mempunyai niat yang baik untuk suatu urusan, aku
yakin Allah pasti memberikan kemudahan, apalagi kita mempunyai niat
untuk menyempurnakan.


Tidakkah kau sadari, selama ini engkau telah memiliki niat yang
tulus dalam hatimu, walau engkau sempat merasa putus asa, namun
perlahan tapi pasti, engkau mendapatkannya satu demi satu, tawaran itu
mengalir walau belum seperti yang engkau inginkan, hanya saja itu
adalah proses akan niat baikmu.


Aku tak bisa menjelaskan dengan detail akanhal itu, aku takut
engkau akan merasa seolah aku mengguruimu atau mungkin memaksamu,
bukan-bukan itu yang aku mau, aku hanya ingin meluruskan maksudmu, aku
akan tetap menunggumu. Sampai engkau merasa siap. Tapi aku tak mau
engkau terus berfikir akan semua materil, karena aku yakin seiring
berjalannya waktu kita pasti bisa mewujudkannya bersama-sama.


Banyak orang sukses pada awal ia menikah biasa-biasa saja, tapi
karena mereka mau berusaha, bahu membahu dan didampingi oleh istri
tercinta, akhirnya mereka bisa mewujudkan cita-citanya.
Untuk itu jangan memaksakan diri untuk segera mewujudkannya, aku tak
mau dirimu sakit, hanya kerena bekerja dan tak mengenal waktu
beristirahat.


Engkau mengatakan agar aku tak perlu memikirkan dan
mengkhawatikanmu, tapi aku tak bisa, karena aku tau sikapmu yang selalu
merasa bisa dan menganggap semua mudah, itu yang aku khawatirkan.
Istirahat yang kurang dan tidak beraturan bisa membuatmu sakit,
bagaimana bisa aku tidak memikirkanmu? Kau tau..engkau adalah
semangatku, separuh dari hidupku, ada yang kurang jika sehari saja aku
tidak memikirkan dan mendengar kabarmu, bagaimana bisa aku melupakanmu
jika engkau sudah terpatri dalam hatiku.


Mungkin kau tak pernah tau akan hal itu, seberapa besar aku
mencintaimu, mengharapkanmu tuk menjadi pendampingku. Menjadi imam
untukku juga anak-anakku kelak.


Kadang aku juga merasa heran, mengapa aku begitu menyanjungmu,
tak perduli akan yang lain. Engkau yang terbaik, segalanya untukku.


Sayang aku terus berdoa untuk kita, semoga Allah memberikan kemudahan dan melimpahkan rahmatnya pada kita. Amien….

 


Tak kuasa aku membaca semua itu, pikiranku berputar, mungkin semua
yang dikatakannya pada surat itu benar adanya, surat yang ia kirimkan
padaku karena mungkin tak sanggup untuk dia ucapkan..
hatiku terus berkata, apa yang harus aku lakukan?
Tuhan tuntunlah hambaMu ini….


Inspired by Ayat-Ayat Cinta the Movie