Mas..aku mencintaimu..!!
Kuterima lagi hadiah doa dari masku. Walau Mas Alwan memiliki
kekurangan, tetapi kelebihannya jauh lebih banyak. Dia setia, ganteng,
cerdas, bertanggung jawab, berjiwa pemimpin, jago diplomasi,
berkarisma, dll. Hmm, engkau memang tepat menjadi calonku.
Telah
kucalonkan engkau dalam daftar Da’wah Fardiyahku, agar menjadi seorang
ikhwan. Ikhwan yang akan turut mengokohkan barisan da’wah. Akhlak
dasarmu sudah baik, tinggal sedikit dipoles, maka Insya Allah engkau
akan menjadi jauh lebih ganteng dengan keikhwananmu ^ _ ^. Amiin.
Bangsa Arab dulu juga seperti itu kan Mas, mereka memiliki
akhlak-akhlak dasar yang baik; pemurah, menghormati tamu, setia pada
kabilahnya, pemberani, dan lain-lain. Hanya saja akhlak-akhlak baik
Bangsa Arab itu belum sempurna karena dilandasi keinginan untuk dipuji
dan fanatisme buta. Hingga diutuslah sang nabi akhir zaman yang
bersabda, "Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
Aku
siapkan agenda Da’wah Fardiyahku untukmu ya. Dari evaluasiku, di tahun
pertama, engkau sedikit sulit dijinakkan (lho?!.memangnya?). Afwan ya
Mas, kalau istilahnya begitu. Karena kalau kata orang-orang, aku dan
engkau bagaikan manusia dari Timur dan dari Barat. Hal itu sering
membuat kita ada dalam kondisi perang dingin dan engkau sering
membuatku berlinang air mata. Perbedaan Timur dan Barat itu sungguh
kentara, tak ubahnya dua peradaban yang saling berbenturan. Karena
engkau suka berkiblat ke millah (cara hidup) dan fikrah (pemikiran)
Barat. Afwan, ketika itu pemahaman fiqh da’wahku masih kurang baik,
sehingga aku langsung main marah saja kalau melihatmu melakukan hal-hal
yang dilarang agama. Dan, nah ya!, aku juga masih ingat ketika aku
pertama kali hijrah dan berjilbab, engkau menyeletuk, "Waduh? kayak
orang padang pasir!" Aku sedih mendengarnya, tapi biarlah! ini namanya
generasi ghuraba, Mas..
Tahun kedua, da’wahku mulai smooth ya.
Maklum, adikmu ini baru paham fiqh da’wah. Ternyata?., dalam berda’wah
kita harus lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, mengerti apa yang
harus dilakukan dan adil terhadap apa yang harus dilarang. Berda’wah
itu harus bertahap, karena pemahaman setiap manusia berbeda-beda. Dan
tentu saja, tugas kita hanyalah menyampaikan sedangkan hidayah itu dari
Allah saja. "Kamu tidak akan bisa memberi hidayah pada yang engkau cintai".
Tambahan lagi, kesabaran adalah yang utama. Karena tanpanya, kita akan
isti’jal (terburu-buru) inginkan hasil. Padahal Allah tidak menilai
hasil, Dia menilai proses. Maafkan aku, Mas! Aku akan mulai mencoba
memahami dirimu.
Aku termangu menerima hadiah doamu. Mmm..engkau masih ingat, tidak ya? Di minggu pagi yang cerah, aku duduk di
ruang tengah dan engkau keluar dari kamarmu, hendak mencuci mobil di
garasi. Tapi aku tertegun melihat penampilanmu. Wah?, ndak salah nih,
gumamku kala itu. "Mas, kok pake celana pendek, kan ndak boleh tuh?.."
Engkau senyum-senyum mendengar teguranku. "Hehehe, iya nih kalau
ketahuan sama anak rohis di kampusku, pasti aku juga dimarahi! hehehe,"
jawabmu sambil tetap ngeloyor pergi ke garasi. Aku jadi mengernyitkan
kening?. Hmm, sudah tahu tidak boleh, tapi kok masih dipakai juga yah
(?).
Di lain waktu, engkau kerap menggodaku, "Enaak nih Pizza
Hut!", ujarmu sambil mengunyah sepotong pizza yang engkau tahu aku
tidak menyukainya. "Itu kan ndak boleh, diboikot!, makan darah orang
Palestina lho, Mas?.", jawabku. "Hehehe, biarin! nyam..nyam", katamu.
Tapi di lain waktu, ketika aku membaca Al Qur’an di keremangan malam,
tiba-tiba engkau bangun dari tidurmu dan berbaik hati menyalakan lampu,
menerangiku membaca kitab-Nya. Syukron!
Tahun ketiga, sudah ada
dialog antara kita. Dan kalau di evaluasi, engkau hari ini sudah jauh
berbeda dari 2 tahun yang lalu. Paling tidak, engkau tak lagi anti
Islam, sudah rajin shalat, mulai menyadari perjuangan muslim di
Palestina dan bertanya tentang Islam. " Dek!, kenapa sih anak rohis di
kampus itu, kecil-kecil dah pada nikah?" Aku sedikit terkejut dengan
pertanyaanmu. " Oh..itu karena begini dan begitu…" , jawabku. Di lain
waktu engkau bertanya lagi, " Dek, memangnya manfaat Shalat Dhuha itu,
apa?". " Oh ". Itu karena begini dan begitu.. , jawabku. Engkau
mengangguk-anggukkan kepala. Dan yang membuatku bersyukur adalah ketika
engkau mendukung dan memberikan suaramu untuk partai Islam yang bersih
dan peduli. Aku hanya bisa mengucap hamdalah. (Duh! ya Rabbi..,
sakit..!).
Dan, aku masih termangu menerima hadiah doa darimu.
Sifatmu yang keras, membuat aku teringat akan Umar bin Khattab yang
juga keras, tapi lembut hatinya. Mungkin seperti itulah aku
mengibaratkanmu. Keras di luarnya saja, tapi sesungguhnya hatimu
lembut. Buktinya, engkau menangis kala mbak kita dalam proses ijab
qabul. Dan bukankah dulu Umar benci Islam? Apatah lagi engkau tidak
separah jahiliyahnya Umar, yang sampai mengubur hidup-hidup anak
perempuannya. Sungguh! aku yakin, engkau bisa berubah, sebagaimana
keyakinanku dalam mentarbiyah para mad’u di kampus, karena memang
fitrah manusia adalah Islam.
Hmm, dalam 3 tahun Da’wah Fardiyah,
engkau belum juga menjadi ikhwan, belum ‘mengaji’, belum berda’wah.
Tetapi aku tak akan putus asa, karena engkau masku!, karena aku sangat
merindukan mempunyai mas yang ikhwan!. Aku ingin kita sekeluarga
selamat di dunia dan di akhirat. Sekali lagi, aku tetap yakin, manusia
bisa berubah!
Hadiah doa darimu membuat aku ingin terus
berfikir. Mas?, sekarang engkau sedang apa ya? Jangan sering pulang
malam, nanti sakit. Apakah sekarang engkau sudah menikah? Sudah punya
anak? Apakah.. dan apak..a. Aduuh! sakit!. Ya Rabbi!., sungguh dahsyat
sakitnya kematian kala kecelakaan itu. Kala ruh berpisah dengan jasad.
Dan Illahi Rabbi.., walau sang maut menjemput bertahun-tahun lalu,
tetapi sakitnya hingga detik ini masih kurasa!. Ya Allah, aku masih
dapat mengingat saat ibu, ayah, mbak dan masku menangisi aku yang
terbujur kaku, mengantarku ke tempat peristirahatan " Ya Rabbi ", kala
itu langit mendung, bunga-bunga ditaburkan di atas tempatku. Sungguh
kehidupan di dunia seperti sehari saja., atau kurang dari itu dan
sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan akhirat yang kekal. Akankah aku
dapat bertemu lagi dengan keluargaku.
(Merenung) Ya Rabbi!,
hingga kini, aku tidak tahu apakah masku sudah menjadi seorang ikhwan?,
yang menjadi bagian dari barisan da’wah untuk meninggikan kalimah-Mu.
Apakah kami dapat bertemu dalam naungan-Mu? Kurindu persaudaraan abadi,
yang bukan hanya karena ikatan darah, tetapi akidah. Ibu.., ayah.,
mbak, mas. Aku mencintai kalian semua. Dan untukmu Mas Alwan, "Mas,
aku mencintaimu karena Allah!". Semoga kita dipertemukan kembali dalam
naungan-Nya. Jazakallah Mas, atas hadiah-hadiah doamu selama ini, doa
yang besarnya sebesar gunung, yang engkau kirimkan untukku setiap hari,
di setiap shalat malammu. Aku mendengarnya.
Ps. saya bukan abang-abang!!!
quoted from here
March 10th, 2008 at 11:26 pm
memang apa-apa perlu proses…
tulisan yang ditulis dengan sangat indah… manis dan menenangkan ^_^ like it
cuma buat diri sendiri ada sedikit ganjalan, kok agak terlalu dogmatis…
hmm pemikiran barat dan pemikiran timur…
siapa barat? siapa timur? apakah barat= kristen dan timur=Islam?
Bangsa arab ingin dipuji dan fanatisme buta? siapa arab??
fanatisme atas apa?
pizza hut, makan darah palestina? benarkan?
ah.. mungkin aku hanya salah seorang yang mesti di akhwatkan lebih lanjut
March 13th, 2008 at 6:25 pm
Memang bukan abang-abang..Tapi oom-oom. hehehe… afwan:p
June 30th, 2008 at 11:26 pm
hmm Romatisme dan Dogmatis…
tulisan yang mengalir sperti sajian dakwah sastrawan saja…. TOP DAH…