Bu Atun dan Anaknya…..
<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
p
{mso-margin-top-alt:auto;
margin-right:0in;
mso-margin-bottom-alt:auto;
margin-left:0in;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>
Saat
itu aku sedang duduk di sebuah depot pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut.
Terminal Baranangsiang-Bogor ini memang selalu sibuk tanpa henti melayani
penumpang komuter Jakarta-Bogor. Tak ada kata berhenti di nadi kenek-kenek
untuk selalu berteriak mecari penumpang. Sambil menunggu pesananku
datang, aku mengedarkan pandangan melihat sekeliling depot ini. Tatapanku
terhenti pada seorang ibu yang menangis tanpa suara sambil membalas sms yang
baru saja diterimanya. Tanpa ragu kudatangi ibu itu.
"Permisi, bu" Ibu itu menengadahkan
kepalanya melihatku. "Boleh saya menemani Ibu disini?" tawarku sambil
tersenyum. Ibu itu mengangguk pelan, tetap saja menangis.
" Maaf Bu, kalau Ibu tidak keberatan, Ibu
knapa sedih?" aku mengelus punggung telapak tangan ibu itu. Sungguh sebuah
pemandangan yang jarang terlihat seorang ibu menangis tersedu-sedu di pinggir
jalan seperti itu. Tidak jauh dari terminal lagi.
Ibu itu tetap diam. Pesananku datang, Bu joyo
pemilik depot setengah berteriak memanggilku meletakkan semangkuk soto di
tempat yang kupilih.. " Ibu sudah makan? ". Gelengan kepalanya yang
lemah cukup untuk mengetuk hatiku menawarinya makan di depot. Kupesankan soto
semangkuk lagi untuknya.
" Saya ini…" ucapnya tiba-tiba. Kuletakkan
sendokku dan kusingkirkan makananku dari hadapanku. Lalu cerita mengalir begitu
saja dari bibirnya.
"Saya hanya seorang pembantu rumah tangga
harian. Asal saya Ponorogo. Disini saya ngekos. Gaji saya kecil,
Dik. Wong saya ini cuma tukang cuci dan setrika baju saja. Tapi anak saya
nuakalnyaaaa…. ndak ketulungan, Dik. Saya baru saja disms Paklik saya,
katanya Yanto ditangkep polisi. Baru mencuri tv tetangga, dia jual,
terus dibelikan minuman keras.
"Saya bingung, Dik. Dapat dari mana saya uang
segitu besar untuk nebus Yanto? Wong gaji saya sebulan cuma cukup untuk bayar
SPP-nya Yanto dan makan kami selama sebulan. Paklik manggil saya pulang Dik,
katanya Yanto mau disidang. Saya ndak mau Yanto dipenjara, Dik…." cerita
berhenti sebentar. Ibu itu menyeka peluh di mukanya
."Saya harus pulang dan nebus Yanto, Dik. Tapi
saya ndak ada duit" tangisnya makin menjadi.
Selera makanku hilang seketika. "Ibu masih mau
bekerja jadi pembantu?"
"Mau sekali, Dik. Wong saya bisanya ya cuma
itu…."
Aku lalu menawarinya bekerja di rumahku. Ibu itu,
yang belakangan kuketahui namanya Atun, senang bukan kepalang dan berterima
kasih sambil memelukku.
Kuselipkan selembar uang seratusribuan hasilku menulis ke tangannya dan memintanya untuk segera menghubungi segera sesudah ia sampai ke Bogor kembali.
Dia berjanji akan pulang dalam 3 hari dan segera
menghubungiku sesampainya dia di terminal ini lagi untuk kujemput.
Hatiku terasa lega bisa membantu Bu Atun. Belum
setelah ia menghilang ke gerbang keluar terminal, perutku bernyanyi makin keras. Aku teringat semangkuk sotoku!. Bergegas aku menuju kembali ke depot.
"Wah mas, tadi ngasih berapa ke Bu Atun?" tanya Ibu penjaaga depot dengan wajah setengah cemas. "Ga banyak kok bu, sedikit saja…asal cukup buat dia balik lagi nanti kesini tiga hari lagi", kataku sembari tidak memperdulikannya lagi. Perhatianku benar-benar sudah tertuju ke semangkuk soto panas yang dari tadi menanti di hadapanku.
"Bukan gitu Mas, dia itu memang kerjanya seperti itu. Berpura-pura butuh uang untuk anaknya…. sudah banyak yang tertipu mas, tadinya saya mau ngingetin mas-nya… tapi sudah terlambat….".
"Astaghfirullah…..", gumamku. Tiba-tiba saja, semangkuk soto itu berubah rasanya menjadi makanan termahal yang pernah kumakan……
April 6th, 2008 at 7:27 pm
gubraaaaaaaaaksss….
udh baca serius-serius…dasarrr *_*
May 5th, 2008 at 8:09 am
bu atun… bu atun…. tapi, bu atun ga bakalan kayak gituh juga kalo hidupnya berlebihan…
June 3rd, 2008 at 6:53 am
iklaaaasss…
June 30th, 2008 at 11:17 pm
hmm…. gw udh termehek-mehek… yeh kasus tnyata….. apessssss…… tapi pahalanya gde bos.. klo iklas…